Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

AHY Lempar Pesan 2029, Gerindra Pilih Tak Menafsirkan

AHY Lempar Pesan 2029, Gerindra Pilih Tak Menafsirkan Kredit Foto: Ist
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan pesan politik mengenai pergantian kekuasaan dalam pidatonya saat peringatan HUT ke-25 Partai Demokrat. AHY menegaskan bahwa kekuasaan bukan sesuatu yang dapat dimiliki seseorang untuk selamanya karena pada dasarnya merupakan amanah dari rakyat.

"Kekuasaan bukan milik seseorang untuk selamanya. Kekuasaan adalah amanah rakyat yang memiliki batas waktu," kata AHY saat berpidato dalam acara HUT ke-25 Partai Demokrat di Gedung DPP Demokrat, Jakarta, Sabtu (6/9/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan AHY ketika Partai Demokrat mulai memasuki fase baru menuju agenda politik nasional berikutnya. Meski tidak secara langsung menyebut Pilpres 2029, pesan mengenai batas kekuasaan dan pergantian kepemimpinan membuka ruang bagi pembacaan politik menjelang kontestasi mendatang.

AHY juga menekankan bahwa demokrasi memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk menentukan siapa yang akan memimpin negara. Menurut dia, hak politik tersebut tidak hanya berupa hak memilih, tetapi juga hak setiap warga negara untuk dipilih sebagai pemimpin.

Pesan AHY kemudian mendapat perhatian karena disampaikan di tengah mulai munculnya pembicaraan mengenai peta politik menuju Pemilu 2029. Namun, Demokrat belum secara terbuka menyatakan siapa kader yang akan diusung dalam kontestasi pemilihan presiden mendatang.

Respons terhadap pidato AHY salah satunya datang dari Partai Gerindra. Juru Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong mengatakan pihaknya menghargai pandangan politik yang disampaikan AHY.

"Tentu kami menghargai, menghormati setiap pendapat partai, baik itu partai yang di luar koalisi, begitupun partai yang ada di pemerintahan sebagai koalisi Kabinet Merah Putih yang dipimpin oleh Presiden Prabowo," tutur Bahtra di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (8/9/2026).

Ketika ditanya apakah pernyataan AHY mengenai batas kekuasaan merupakan sindiran terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, Bahtra memilih tidak memberikan tafsir. Ia menyerahkan makna pidato tersebut sepenuhnya kepada AHY sebagai pihak yang menyampaikannya.

"Kalau soal itu silakan ditanya ke Pak AHY ya. Saya tidak, tentu tidak punya hak untuk menafsirkan itu, tetapi setiap partai kan punya kebebasan masing-masing, baik itu partai yang ada di pemerintah begitupun partai yang di luar pemerintah," ungkapnya.

Sikap Gerindra tersebut membuat pesan AHY tetap menjadi ruang terbuka untuk ditafsirkan secara politik. Pasalnya, AHY tidak hanya berbicara mengenai pergantian kekuasaan, tetapi juga menempatkan rakyat sebagai pihak yang memiliki hak untuk menentukan maupun menjadi pemimpin.

Di sisi lain, Gerindra menegaskan tidak akan menghalangi partai politik lain apabila ingin mempersiapkan diri menghadapi kontestasi 2029. Bahtra mengatakan setiap partai memiliki kemerdekaan untuk menentukan sikap dan agenda politiknya masing-masing.

"Dan kami juga tentu memberi keleluasaan ya ke partai koalisi mana pun jika misalnya ada partai-partai yang berkeinginan atau punya harapan ke depan untuk melakukan kontestasi itu silakan aja dan setiap partai kan punya kemerdekaan masing-masing ya dan tentu kami juga tidak bisa menghalangi ya partai siapa pun itu," katanya.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Gerindra tidak melihat persiapan politik menuju 2029 sebagai sesuatu yang harus dibatasi oleh partai yang saat ini berada di pemerintahan. Meski demikian, Gerindra sendiri menyatakan belum ingin menjadikan Pilpres 2029 sebagai fokus utama karena masih banyak agenda pemerintahan yang harus diselesaikan.

Bahtra mengatakan Gerindra saat ini masih berkonsentrasi mengawal program prioritas Presiden Prabowo. Ia juga mengingatkan bahwa janji kampanye yang disampaikan pada Pilpres 2024 harus terlebih dahulu ditunaikan.

Baca Juga: AHY Kenalkan Amunisi Baru Demokrat untuk Hadapi 2029

"Namun kami dari Partai Gerindra ya tentu fokus kami saat ini terus mengawal program prioritas Presiden Prabowo karena pada saat pilpres yang lalu tentu juga janji kampanye harus ditunaikan," ujarnya.

Gerindra juga menilai perhatian pemerintah dan partai politik saat ini seharusnya diarahkan pada persoalan yang langsung dihadapi masyarakat. Bahtra menyinggung berbagai bencana yang terjadi dan meminta seluruh pihak tetap solid menghadapi situasi tersebut.

"Kita lihat misalnya ada bencana di mana-mana dan ini kita harus solid bekerja sama untuk terus bagaimana berbuat yang terbaik dalam situasi yang seperti ini," katanya.

Pidato AHY mengenai batas kekuasaan menjadi salah satu pernyataan politik yang menarik perhatian menjelang Pemilu 2029. AHY belum secara terbuka menyebut pencalonan atau nama kandidat, sementara Gerindra memilih tidak menafsirkan pesan tersebut dan mempersilakan setiap partai menentukan langkah politiknya sendiri.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama