Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SIG Pangkas Emisi Semen hingga 38%, Bahan Bangunan Hijau Makin Digenjot

SIG Pangkas Emisi Semen hingga 38%, Bahan Bangunan Hijau Makin Digenjot Kredit Foto: SIG
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) mendorong penggunaan bahan bangunan rendah emisi untuk mempercepat penerapan konstruksi berkelanjutan di Indonesia. Upaya tersebut dilakukan melalui kolaborasi dengan Green Building Council Indonesia (GBCI) dalam Indonesia Green Building Festival 2026.

Direktur Operasi SIG Reni Wulandari mengatakan penerapan konsep green building tidak cukup hanya melalui standar dan kerangka penilaian bangunan hijau. Prinsip tersebut juga perlu diterapkan dalam pemilihan bahan bangunan yang digunakan dalam proyek konstruksi.

"Transisi menuju konstruksi rendah emisi membutuhkan kolaborasi seluruh rantai nilai, sekaligus ketersediaan solusi bahan bangunan untuk berbagai kebutuhan proyek. SIG mengambil peran dengan menghadirkan inovasi produk dan solusi rendah emisi yang diproduksi dengan bahan baku dan proses yang ramah lingkungan," kata Reni di Patrajasa Yudistira Grand Ballroom, Jakarta, Kamis (3/9/2026).

SIG menerapkan prinsip ekonomi sirkular dalam proses produksinya, salah satunya melalui penggunaan bahan bakar alternatif berupa refuse-derived fuel (RDF) dari sampah perkotaan, limbah industri, dan biomassa. Tingkat thermal substitution rate (TSR) di pabrik-pabrik SIG telah mencapai 25%.

Perusahaan juga mengembangkan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT) melalui pemasangan solar panel serta pemanfaatan gas panas buang menggunakan teknologi Waste Heat Recovery Power Generation (WHRPG).

Dari sisi operasional, SIG menerapkan plant digitalization untuk mengoptimalkan proses produksi dan efisiensi biaya. Salah satunya melalui penggunaan plant optimizer yang telah diterapkan di sejumlah pabrik dan akan diperluas ke pabrik lainnya.

Berbagai langkah tersebut mendukung pengembangan produk semen hijau dengan intensitas emisi hingga 38% lebih rendah dibandingkan semen konvensional. SIG menyebut produk tersebut tetap memiliki kualitas yang setara dengan semen konvensional pada kelas peruntukannya.

SIG saat ini memiliki sejumlah varian semen hijau yang telah mendapatkan sertifikasi Green Label, antara lain PwrPro untuk kebutuhan yang membutuhkan kekuatan awal ekstra dan kemudahan pengerjaan serta MaxStrength Pro untuk pengecoran massal dan stabilisasi tanah.

Selain semen, SIG mengembangkan sejumlah produk beton inovatif, seperti beton berpori ThruCrete, beton cepat kering SpeedCrete, beton dekoratif DekoCrete, dan paving block berpori.

SIG juga menghadirkan Bata Interlock Presisi yang dirancang untuk meningkatkan kecepatan dan efisiensi konstruksi. Produk turunan semen hijau tersebut menggunakan mekanisme balok yang saling mengunci dan diklaim menghasilkan bangunan yang kokoh, ramah gempa, serta tahan api.

Baca Juga: Pendapatan SIG Naik 13,1%, Penjualan Semen Tembus 18,28 Juta Ton

Baca Juga: SIG Pertahankan Peringkat idAAA dari Pefindo, Prospek Pasar Tetap Kuat

Baca Juga: Semen Kujang Comeback! SIG Bidik Pasar Konstruksi Jawa Barat

Menurut Reni, penerapan prinsip keberlanjutan juga berkaitan dengan daya saing industri. Produk SIG telah tersertifikasi Standar Nasional Indonesia (SNI) dan memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) lebih dari 90%.

"Produk-produk SIG juga telah tersertifikasi SNI dan mengandung komponen dalam negeri (TKDN) tinggi lebih dari 90%. Dengan semua keunggulan yang dimiliki, produk SIG memiliki daya saing di level nasional bahkan global," ujar Reni.

Indonesia Green Building Festival 2026 digelar di lima kota, yakni Bandung pada 9 September, Yogyakarta 14 September, Makassar 24 September, Denpasar 26 September, dan Surabaya 29 September 2026. Festival tersebut ditujukan untuk mendorong pelaku industri mengintegrasikan prinsip bangunan hijau dalam perencanaan pembangunan, termasuk pemilihan bahan bangunan dan proses konstruksi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri