Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Alarm untuk Prabowo: Rakyat Sudah Menyimpulkan Ada 'Makar Besar' Disiapkan Jokowi, Bisa Seperti 1998

Alarm untuk Prabowo: Rakyat Sudah Menyimpulkan Ada 'Makar Besar' Disiapkan Jokowi, Bisa Seperti 1998 Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketua Dewan Pertimbangan Partai Ummat Amien Rais mengingatkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya presiden harus mewaspadai dinamika politik yang tengah berkembang di sekitar sosok dari Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi).

Amien menilai manuver politik yang ia kaitkan dengan mantan presiden itu berpotensi memicu gejolak apabila terus berkembang tanpa kendali. Ia bahkan memperingatkan kemungkinan munculnya gerakan massa atau people power seperti yang terjadi menjelang perubahan politik pada 1998.

Baca Juga: Amien Rais: Jokowi Tak Akan Pernah Berhenti Mengejar Kekuasaan Kecuali Kalau Nanti Sudah Makan Tanah

“Saya ingin mengingatkan beliau tentang bahaya politik dari move-move politiknya yang berbahaya,” ujar Amien, dikutip Kamis (10/9/2026).

Salah satu hal yang disorotinya adalah pernyataan dari Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi. Relawan Jokowi itu baru-baru ini bicara mengenai kemungkinan percepatan Pilpres 2029.

Menurut Amien, pernyataan tersebut tidak dapat dipandang sebagai persoalan biasa karena muncul dalam dinamika politik yang menurutnya patut dicermati.

“Nah omongan dia yang tidak begitu cerdas didampingi beliau bahwa kalau bisa pilpres dipercepat tidak usah menunggu tahun 2029. Saya rasa itu sangat mengerikan,” katanya.

Budi Arie kemudian menyampaikan permintaan maaf setelah pernyataannya mendapat perhatian publik. Namun, Amien mengaku tetap melihat adanya persoalan yang lebih besar di balik dinamika tersebut.

“Sehari kemudian penjahat judol ini minta maaf tetapi tidak ada gunanya. Karena masyarakat sudah menyimpulkan ada makar besar yang sudah disiapkan Jokowi,” ujar Amien.

Amien mengingatkan bahwa dinamika politik dapat menjadi sulit dikendalikan apabila terjadi rekayasa politik dan eskalasi di tengah masyarakat. Ia kemudian menghubungkan kondisi tersebut dengan pengalaman sejarah Indonesia pada 1998.

Ia mewaspadai terjadi kembalinya people power dalam dinamika politik dari Indonesia. Dalam penjelasannya, istilah tersebut disebut tidak dimaksudkan sebagai perang atau perkelahian antarsesama anak bangsa.

“Tetapi kalau kondisi dan situasinya makin geruh akibat political engineering para pendukung dia yang kebelet ingin berkuasa kembali, perkembangan di lapangan bisa lepas kendali. Bisa saja terjadi kembali semacam people power yang memuncak pada 21 Mei tahun 1998. Kalau sampai ini terjadi lagi, mungkin akan memakan korban jiwa yang jauh lebih besar,” tutur Amien.

Sebelumnya, banyak pihak mengkritik pernyataan kontroversial dari Ketum Projo Budi Arie. Ia diketahui membuat pernyataan yang kemudian viral di media sosial. Dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi), ia mengaku memiliki insting bahwa pemilu dapat berlangsung lebih cepat dari jadwal 2029.

"Saya ingin sampaikan, tadi saya udah bisik ke Pak Jokowi, 'Pak, kok insting saya ini lebih cepat dari 2029?'. Apakah kita mau? Belum tentu kita mau. Kita masih ngomong ke Pemilu 2029. Kalau terjadi percepatan gimana? Kita siap, enggak?" ujar Budi Arie.

Budi Arie belakangan memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf kepada pihak-pihak yang merasa tidak nyaman dengan ucapannya, salah satu pihak yang tak nyaman itu diketahui adalah kubu dari Prabowo Subianto.

Baca Juga: Doli Sudah Lempar Granat, Demokrat: Golkar Ingin Adu Domba Anggota Koalisi Prabowo dan AHY

"Saya Budi Arie Setiadi memohon maaf kepada pihak-pihak yang kurang berkenan dan nyaman dengan pernyataan saya tersebut," ujar Budi.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Aldi Ginastiar
Editor: Aldi Ginastiar