Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Antrean 15 Km Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Bukan karena Kapal Kurang, Ini Biang Keladinya

Antrean 15 Km Pelabuhan Ketapang-Gilimanuk Bukan karena Kapal Kurang, Ini Biang Keladinya Kredit Foto: PT ASDP INDONESIA FERRY
Warta Ekonomi, Surabaya -

Dibalik permasalahan antrian panjang yang terjadi pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, Jawa Timur menuju Gilimanuk beberapa minggu lalu yang mengakibatkan kemacatan hingga mencapai sekitar 15 kilometer ternyata bukan disebabkan kekurangan unit armada kapal penyeberangan melainkan disebabkan kerusakan salah satu dari jumlah 7 dermaga alami perbaikan dan pola TTB (Tiba Bongkar Berangkat )

“Bukan soal kurangnya jumlah armada kapal yang kurang dan TTB sehingga mengakibatkan antrian panjang. Secara normal saja juga terjadi kemecatan karena jumlah armada kapal tidak bisa tercover di seluruh armada kapal yang tersedia. Saat ini total armada kapal yang berada pelabuhan Ketapang- Gilimanuk sudah 56 kapal yang memiliki izin operasi tetapi hanya 23 unit kapal yang beroparasi setiap hari. Jadi bukan soal kurang armada kapal tetapi darmaga dan system operasional di benahi,” tegas Ketua DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (GAPASDAP) Khoiri Soetomo di Surabaya kemarin.

Adapun permasalah kemarin kata Khoiri, terdapat penutupan dermaga Movable Bridge ( MB ) II Ketapang sejak 21 Agustus 2026 kemarin juga dermaga Bulusan juga belum dapat beroperasi secara maksimal setelah dua unit dolphin fender roboh ke laut. Tidak hanya itu saja, jumlah dermaga yang berada Gilimanuk masih dianggap kurang

“Kondisi tersebut membuat kapasitas pelayanan di lintasan Ketapang–Gilimanuk menurun dan berdampak terhadap meningkatnya antrean kendaraan,” tambahnya

Sementara itu penerapan pola TBB sebagai salah satu upaya mengurai antrean di pelabuhan Ketapang Khoiri mengungkapkan, bahwa pola TBB merupakan kapalkapal dari Ketapang menuju Gilimanuk langsung membongkar muatan dan kembali ke Ketapang tanpa mengangkut kendaraan maupun penumpang dari Gilimanuk.

“Pola TBB memang dapat mempercepatwaktu kapal kembali ke Ketapang. Namun, pola inibelum tentu secara otomatis meningkatkan jumlah perjalanan kapal karena tetap bergantung pada ketersediaan slot dan kapasitas dermaga yang ada,” ungkapnya.

Khoiri berharap, pihaknya terus mendorong percepatan penyelesaian pekerjaan di Dermaga MB II Ketapang serta perbaikan dermaga Bulusan agar kapasitas pelayanan penyeberangan dapat kembali meningkat. Selain itu, pihaknya telah mengusulkan evaluasi terhadap waktu sandar atau porttime kapal yang saat ini sekitar 36 menit. Waktu tersebut diharapkan dapat dipangkas menjadi sekitar 20–25 menit dengan tetap memperhatikan aspek keselamatan dan kelancaran proses bongkar muat.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Mochamad Ali Topan
Editor: Annisa Nurfitri