Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Masyarakat Masih Enggan Pakai Asuransi Kredit Pinjol, Harga Premi Dinilai Kemahalan

Masyarakat Masih Enggan Pakai Asuransi Kredit Pinjol, Harga Premi Dinilai Kemahalan Kredit Foto: Nadia Khadijah Putri
Warta Ekonomi, Jakarta -

Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) menilai biaya premi asuransi kredit pada industri pinjaman daring (pindar) masih terlalu tinggi. Kondisi tersebut membuat lender mempertimbangkan kembali penggunaan asuransi sebagai perlindungan terhadap risiko pembiayaan.

Ketua Umum AFPI Entjik S. Djafar mengatakan asuransi kredit saat ini sudah tersedia dan digunakan oleh industri fintech lending. Namun, lender masih memperhitungkan besarnya premi sebelum menggunakan skema tersebut.

“Asuransi sudah ada memang. Sudah jalan,” kata Entjik saat ditemui usai konferensi pers Satu Dekade Kredivo Group: Peluncuran Laporan Dampak Sosial dan Ekonomi di Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Menurut Entjik, biaya premi menjadi salah satu pertimbangan lender dalam menggunakan asuransi kredit. Premi yang masih tinggi membuat skema perlindungan tersebut belum mudah diterapkan.

“Cuma lender masih mempertimbangkan karena biaya premi asuransi masih tinggi,” ujarnya.

Baca Juga: Utang Warga RI Makin Gemuk, Pinjol Tumbuh 24,76% hingga Tembus Rp105,63 Triliun

Baca Juga: Pinjol Meledak 25%, Ferry Latuhihin: Pertumbuhan Ekonomi Tak Terasa di Rakyat

Saat ini, penggunaan asuransi kredit di industri pindar masih bersifat opsional. Lender memiliki kewenangan untuk menentukan penggunaan skema asuransi dalam penyaluran pinjaman.

AFPI berharap biaya premi dapat ditekan sehingga lender memiliki pilihan perlindungan risiko dengan biaya yang lebih terjangkau.

“Kita harapkan preminya asuransi juga bisa rendah. Karena kalau saat ini masih belum bisa masuk,” ujarnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri