Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

SMLE Belum Bahas Dividen, Fokus Perluas Ekosistem Bisnis

SMLE Belum Bahas Dividen, Fokus Perluas Ekosistem Bisnis Kredit Foto: Antara/Indrianto Eko Suwarso
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Sinergi Multi Lestarindo Tbk (SMLE) belum membahas rencana pembagian dividen untuk tahun buku 2026.

Di tengah tekanan kinerja pada kuartal I-2026, perseroan memilih memperkuat ekosistem bisnis melalui pengembangan specialty ingredients, own brand, kemitraan strategis, riset dan pengembangan (R&D), serta kemampuan aplikasi.

Direktur Utama SMLE Siu Min mengatakan perseroan hingga kini belum membahas kebijakan pembagian dividen untuk tahun buku 2026.

"Untuk tahun buku 2026, kami belum mendiskusikan untuk memberikan dividen,” ujar Siu dalam Public Expose Live 2026, Jakarta, Jumat (11/9/2026).

Keputusan tersebut diambil saat kinerja SMLE masih menghadapi tekanan. Pendapatan perseroan pada kuartal I-2026 tercatat Rp44,02 miliar, turun 18% dibandingkan Rp53,98 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Sejalan dengan penurunan pendapatan, laba kotor SMLE menyusut menjadi Rp9,85 miliar dari Rp13,60 miliar. Perseroan juga berbalik membukukan rugi bersih Rp3,53 miliar, dibandingkan laba bersih Rp280 juta pada kuartal I-2025.

Tekanan tersebut turut tercermin pada margin. Margin laba kotor turun menjadi 22,4% pada kuartal I-2026 dari 25,2% setahun sebelumnya. Sementara itu, margin laba bersih berbalik negatif menjadi 8,0%, dibandingkan 0,5% pada kuartal I-2025.

Di tengah kondisi tersebut, SMLE memilih mempercepat transformasi bisnis dari perusahaan yang berfokus pada distribusi bahan baku menjadi specialty chemical solutions partner. Perseroan membangun ekosistem yang mengintegrasikan specialty ingredients, specialty chemicals, strategic partnerships, own brands, R&D, application development, dan technical solutions.

“Kami melihat fase berikutnya dari pertumbuhan SMLE bukan hanya tentang menjual lebih banyak produk, tetapi tentang menciptakan lebih banyak nilai dari setiap customer, setiap principal, dan setiap aplikasi yang kami kembangkan,” kata Siu.

Untuk mendukung strategi tersebut, SMLE memperluas kemitraan dengan prinsipal dan pemasok strategis dari berbagai negara. Di bisnis Food Ingredients, perseroan menggandeng Emmi Nutritional Solutions untuk penyediaan bahan baku dairy berbasis susu kambing dan domba, serta BioGrowing asal China untuk memperluas portofolio probiotik, postbiotik, dan starter cultures.

SMLE juga mengembangkan sejumlah own brand specialty chemical platforms melalui kemitraan dengan GK Group, antara lain GK Silicones, GK Spices, dan GK Coatings. Pengembangan ini ditujukan untuk menciptakan diferensiasi produk, memperluas solusi bagi pelanggan, serta membangun hubungan jangka panjang yang lebih erat berdasarkan kebutuhan aplikasi.

Selain itu, perseroan mengembangkan PT Sinar Aroma Sentosa (Sinarom) dari fasilitas blending menjadi Blending & Application Center, Value Creation Hub, serta R&D & Application Partner. Fasilitas tersebut akan mendukung pengembangan produk, blending, customization, pengujian aplikasi, hingga kolaborasi teknis dengan pelanggan dan prinsipal.

Pengembangan ekosistem tersebut mulai membuka peluang bisnis baru. Dalam ajang Indonesia Cosmetic Ingredients (ICI) 2026, SMLE mencatat 62 pelanggan baru, 26 pelanggan lama, serta 63 proyek baru.

Di bisnis fragrance, SMLE menggandeng PT Kencana Alam Sakti untuk mengembangkan produksi minyak nilam berkualitas tinggi yang menyasar pasar domestik dan ekspor. Inisiatif tersebut ditargetkan mulai memasuki tahap komersialisasi dan pemasaran aktif pada 2027.

Baca Juga: BEI Setop Perdagangan 2 Saham, Salah Satunya Milik Haji Isam

Baca Juga: RKAB Batu Bara Mulai Pulih, UNTR Hadapi Ancaman El Nino

Baca Juga: Laba Otomotif Astra Tumbuh 9%, Toyota dan Daihatsu Jadi Penopang

Siu menegaskan SMLE tidak ingin mengejar pertumbuhan hanya dari sisi skala. Setiap ekspansi akan tetap mempertimbangkan peluang pasar, nilai tambah, kebutuhan investasi, serta tingkat pengembalian yang dapat dihasilkan.

"Kami tidak ingin mengejar pertumbuhan hanya untuk mengejar skala. Kami ingin membangun pertumbuhan yang memiliki kualitas, margin, dan sustainability yang baik. Setiap pengembangan bisnis akan kami evaluasi berdasarkan peluang pasar, kemampuan kami untuk menciptakan value added, kebutuhan investasi, serta return yang dapat dihasilkan," ujar Siu.

Dengan strategi tersebut, SMLE ingin memiliki lebih dari satu mesin pertumbuhan. Bisnis distribusi tetap menjadi fondasi, sementara specialty ingredients, own brands, application capability, kemitraan strategis, dan solusi bernilai tambah dikembangkan untuk memperluas sumber pendapatan perseroan.

"Kami ingin SMLE memiliki lebih dari satu mesin pertumbuhan. Distribution tetap menjadi fondasi kami, tetapi di atas fondasi tersebut kami membangun specialty ingredients, own brands, application capability, strategic partnerships, dan value-added solutions. Inilah platform yang kami siapkan untuk pertumbuhan SMLE ke depan," kata Siu.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan