Kredit Foto: Istimewa
PT United Tractors Tbk (UNTR) mulai melihat tanda-tanda pemulihan aktivitas pertambangan batu bara setelah pemerintah merevisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB). Namun, di tengah prospek perbaikan tersebut, perseroan kini menghadapi risiko lain dari kondisi cuaca, terutama fenomena El Nino di Kalimantan.
Direktur United Tractors Andreas mengatakan, perkembangan aktivitas pertambangan menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi permintaan alat berat, khususnya kategori big machine yang banyak digunakan di sektor pertambangan batu bara.
Menurut dia, aktivitas tambang batu bara mulai menunjukkan perbaikan setelah adanya revisi RKAB. Meski demikian, perseroan tetap mencermati kondisi cuaca yang berpotensi menghambat aktivitas operasional tambang.
"Walaupun kita lihat tren ke depannya ini mudah-mudahan positif, karena tambang batu bara itu sudah mulai menunjukkan aktivitas yang semakin baik seiring dengan adanya revisi RKAB. Walaupun ada hal lain yang perlu kita cermati di sini terkait dengan kondisi cuaca, terutama di Kalimantan, terkait dengan El Nino ini," kata Andreas dalam Public Expose Live 2026, Senin (7/9/2026).
Andreas belum merinci potensi dampak El Nino terhadap volume produksi maupun kinerja keuangan UNTR. Namun, faktor cuaca tersebut menjadi perhatian perseroan setelah penjualan alat berat big machine, terutama untuk sektor pertambangan, mengalami tekanan sepanjang tahun berjalan.
Hingga Juli 2026, penjualan alat berat Komatsu UNTR mencapai 2.393 unit, turun 23% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebanyak 3.098 unit. Penurunan terutama terjadi pada penjualan big machine untuk sektor pertambangan yang anjlok 49%, seiring dengan penurunan kuota RKAB batu bara nasional.
Meski secara kumulatif masih tertekan, penjualan alat berat mulai menunjukkan perbaikan pada Juli 2026. Penjualan Komatsu mencapai 399 unit, naik 31% dibandingkan Juni 2026.
Pada periode yang sama, produksi batu bara yang ditangani Pamapersada Nusantara (PAMA) juga meningkat 10% secara bulanan menjadi 13 juta ton. Perbaikan ini menjadi sinyal awal pemulihan aktivitas pertambangan setelah rendahnya alokasi RKAB batu bara nasional sebelumnya menekan kinerja UNTR.
BRI Danareksa Sekuritas menilai revisi RKAB berpotensi menjadi katalis positif bagi kinerja UNTR pada paruh kedua 2026. Namun, perkembangan aktivitas pertambangan tetap akan bergantung pada kondisi operasional dan cuaca.
Peningkatan produksi PAMA pada Juli 2026, misalnya, turut didukung kondisi cuaca yang lebih kering. Karena itu, perubahan kondisi cuaca ke depan berpotensi memengaruhi produktivitas tambang.
Selain faktor cuaca, kondisi logistik juga masih menjadi perhatian. Rendahnya permukaan air Sungai Barito dapat menghambat distribusi dan penjualan batu bara UNTR. Risiko tersebut berpotensi semakin besar apabila terjadi bersamaan dengan gangguan operasional akibat kondisi cuaca.
Baca Juga: UNTR Pangkas Komitmen Modal di Rantau Dedap, Kapasitas 90 MW Jadi Target
Baca Juga: UNTR Targetkan Produksi Emas Martabe 65.000 Ons pada 2026
Dari sisi kontraktor pertambangan, volume pemindahan tanah atau overburden removal PAMA hingga Juli 2026 mencapai 573 juta bank cubic meter (BCM), turun 10% dibandingkan 637 juta BCM pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Produksi batu bara untuk klien PAMA juga turun 3% menjadi 80 juta ton dari sebelumnya 83 juta ton. Sementara itu, rata-rata stripping ratio tercatat sebesar 7,1 kali.
Kinerja Keuangan UNTR di Semester I-2026
Tekanan pada bisnis batu bara dan alat berat tersebut turut tercermin dalam kinerja keuangan UNTR pada semester I-2026. Perseroan membukukan pendapatan bersih Rp58,3 triliun, turun 15% dibandingkan Rp68,5 triliun pada semester I-2025.
Penurunan pendapatan terutama dipengaruhi oleh melemahnya penjualan emas serta tekanan pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara akibat lebih rendahnya alokasi RKAB nasional.
Laba bersih UNTR di luar pos non-recurring tercatat sebesar Rp4,3 triliun, anjlok 48% secara tahunan. Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh lebih rendahnya penjualan emas dari Agincourt Resources serta tekanan pada segmen alat berat dan pertambangan batu bara.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Merlina Aryanti
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: