Kredit Foto: Istimewa
Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan tidak menyesali keputusan melancarkan aksi militer terhadap Iran. Ia bahkan menyatakan akan mengambil keputusan serupa jika kembali menghadapi situasi yang sama.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah tekanan politik yang mulai membayangi Partai Republik menjelang pemilu sela atau midterm elections pada November 2026. Trump tetap optimistis konflik tersebut tidak akan mengganggu peluang partainya mempertahankan kendali di Kongres.
Pemerintah AS melancarkan aksi militer terhadap Iran dengan alasan mencegah Teheran memperoleh senjata nuklir. Namun, Iran secara konsisten membantah tuduhan tersebut dan menyatakan program uranium negaranya ditujukan untuk kepentingan damai.
Trump juga memprediksi konflik di Timur Tengah itu akan berakhir tepat setelah pemungutan suara pemilu sela. Ia bahkan menuding pemerintah Iran berupaya mencampuri proses pemilu sela di Amerika Serikat.
Di sisi lain, perang tersebut telah memberikan dampak terhadap stabilitas ekonomi global. Eskalasi konflik mendorong kenaikan harga minyak mentah dan bahan bakar minyak. Kenaikan harga energi dari kawasan vital Timur Tengah kemudian menjadi tekanan terhadap inflasi sekaligus beban politik bagi Partai Republik.
Optimisme Trump mendapat kritik dari kubu oposisi. Senator Partai Demokrat Ed Markey menuduh Trump telah membohongi publik mengenai perkiraan durasi perang.
Markey juga mendesak Kongres segera memotong anggaran untuk pendanaan militer. Melalui unggahan di platform X, ia menyatakan janji Trump bahwa perang akan berakhir setelah pemilu sela tidak dapat dipercaya.
Baca Juga: Bela Iran, Rusia dan China 'Adu Mulut' dengan Barat Soal Nuklir di PBB
Keraguan serupa disebut muncul dari lingkungan internal Gedung Putih. Berdasarkan laporan pers, sejumlah penasihat senior Trump memperingatkan bahwa Iran masih memiliki kemampuan untuk terus memberikan perlawanan.
Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio disebut telah menyampaikan peringatan tersebut secara tertutup kepada Trump. Mereka menilai konflik berpotensi berlangsung jauh lebih lama, bahkan dapat menyeret Amerika Serikat hingga akhir masa jabatan Trump pada awal 2029.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: