Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.661 per USD

Rupiah Ditutup Melemah ke Level Rp17.661 per USD Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup melemah pada perdagangan Senin (14/9/2026). Mata uang Garuda terparkir Rp17.661 atau melemah 58 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.611 per USD.

Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan pelemahan ini terjadi di tengah isu pergantian menteri pada hari ini. Adapun salah satu menteri diisukan diganti adalah Purbaya Yudhi Sadewa.

"Momentum saat ini Purbaya di reshuffle sudah bom waktu yang sudah cukup lama, kita lihat bahwa Purbaya ini bersih. Selalu bersih-bersih di Kementerian Keuangan di Pajak dan Bea Cukai. Bisa saja ini banyak sekali musuhnya terutama dari partai politik," kata Ibrahim kepada wartawan.

Di luar itu, kata Ibrahim pelemahan rupiah hari ini dipicu oleh perekonomian global diperkirakan masih menghadapi berbagai tantangan pada 2026. Hal ini ditandai dengan tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. 

"Oleh karena itu, pemerintah dinilai masih memiliki ruang untuk melakukan efisiensi anggaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 tetap di bawah 3% terhadap produk domestik bruto (PDB)," jelas dia.

Ibrahim menyebut, menjaga defisit APBN 2026 di bawah 3% memang membutuhkan koreksi belanja yang cukup dalam. MBG menjadi salah satu program yang masih memiliki ruang untuk diefisienkan. MBG justru termasuk program yang masih layak diperluas efisiensinya. 

Baca Juga: Menkeu Purbaya Diisukan Kena Reshuffle, Ini Dampaknya ke IHSG

Baca Juga: Reshuffle Purbaya Menggema, Prabowo Panggil Pratikno hingga Suahasil ke Istana

Pagu awal sekitar Rp330 triliun sejak awal terlihat cukup besar dibanding kesiapan tata kelola di lapangan. Penurunan anggaran MBG menjadi sekitar Rp262,5 triliun, kemudian Rp232,5 triliun (Rp30 triliun) untuk 72,46 juta penerima, bahkan apabila harus ditekan di bawah Rp200 triliun, masih dapat diterima. Namun, efisiensi tersebut harus diarahkan pada komponen yang tidak produktif. 

"Yang perlu dijaga bukan besarnya anggaran MBG, tetapi efektivitas belanjanya. Kalau ruang efisiensi di BGN masih ada, pemangkasan seharusnya dilanjutkan," pungkas Ibrahim.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Dwi Aditya Putra