Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali berakhir di zona merah pada perdagangan Rabu (15/9/2026). Sempat menguat hingga menembus level 6.500, IHSG berbalik arah dan ditutup melemah seiring investor mencermati sejumlah sentimen global, terutama keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed).
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup turun 0,38% atau 24,30 poin ke level 6.436,85. Sepanjang perdagangan, indeks bergerak dalam rentang 6.436,85 hingga 6.535,46.
Tekanan terlihat pada mayoritas saham. Dari seluruh saham yang diperdagangkan, sebanyak 201 saham menguat, 439 saham melemah, sedangkan 151 saham lainnya stagnan.
Aktivitas transaksi juga terbilang tinggi. Nilai transaksi saham mencapai Rp12,26 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 24,5 miliar saham. Sementara itu, frekuensi transaksi tercatat mencapai 1,85 juta kali.
Pasar Menanti Keputusan The Fed
Pergerakan IHSG masih dibayangi sentimen global menjelang pengumuman keputusan kebijakan moneter The Fed pada Rabu (16/9/2026). Pelaku pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 3,75%-4%.
Phintraco Sekuritas dalam riset hariannya menyebut ekspektasi terhadap kebijakan The Fed menjadi salah satu faktor yang perlu dicermati investor. Sentimen tersebut turut datang di tengah tekanan di pasar global.
Pada perdagangan Selasa (15/9/2026), indeks-indeks utama Wall Street ditutup melemah. Pergerakan pasar turut dipengaruhi kenaikan harga minyak mentah dan imbal hasil surat utang pemerintah AS.
Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melonjak 4,4% ke level US$105 per barel. Pada saat yang sama, imbal hasil atau yield US Treasury tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin hingga mencapai 5%.
Tekanan juga terjadi pada pasar emas. Harga emas spot terkoreksi 0,3% menjadi US$4.285 per troy ounce.
Dengan mencermati berbagai sentimen tersebut, Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG berpotensi menguji area 6.350-6.400 pada perdagangan berikutnya.
Dari kawasan Asia, investor turut mencermati data ekonomi China yang menunjukkan perkembangan beragam.
Baca Juga: BEI Buka Kembali Short Selling Mulai Oktober, Tahap Awal Hanya 3-5 Saham
Baca Juga: Investor Asing Lepas Saham Rp2,15 Triliun, BMRI dan BUMI Jadi Sasaran Jual Terbesar
Baca Juga: OJK Catat 7 Perusahaan Antre IPO, Target Dana Maksimal Rp4,02 Triliun
Produksi industri China pada Agustus 2026 tumbuh 5,2% secara tahunan (year-on-year/YoY). Namun, pertumbuhan penjualan ritel hanya mencapai 0,4% YoY.
Perbedaan kinerja kedua indikator tersebut menjadi salah satu perhatian pasar karena China merupakan salah satu mitra dagang utama Indonesia dan memiliki pengaruh terhadap prospek permintaan komoditas maupun aktivitas ekonomi kawasan.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada peringatan S&P Global Ratings mengenai meningkatnya risiko kredit serta tekanan pendapatan yang dihadapi sektor perbankan BUMN Indonesia.
Sentimen tersebut menjadi salah satu faktor yang berpotensi memengaruhi pergerakan saham sektor keuangan, terutama di tengah investor yang masih mencermati kondisi ekonomi dan arah kebijakan suku bunga global.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Dian Ihsan
Editor: Dian Ihsan
Tag Terkait: