Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

PDI-P Tanpa Jokowi vs PSI dengan Jokowi, Dede Sebut 2029 Jadi Pertaruhan

PDI-P Tanpa Jokowi vs PSI dengan Jokowi, Dede Sebut 2029 Jadi Pertaruhan Kredit Foto: Setneg
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pemilu 2029 mulai dibaca sebagai ujian baru bagi kekuatan partai politik yang selama ini tumbuh beriringan dengan figur calon presiden. Dede Budhyarto melihat pertarungan tersebut akan menarik ketika PDI-P tidak lagi bersama Joko Widodo, sementara PSI bergerak dengan membawa nama mantan Presiden tersebut.

Dede menyebut konfigurasi itu sebagai pertaruhan sesungguhnya untuk melihat apakah kekuatan figur presiden benar-benar memberikan efek terhadap perolehan suara partai. Ia mengaitkannya dengan pola yang menurutnya terlihat dalam sejumlah pemilu langsung sebelumnya.

"Pertaruhan sesungguhnya ada di 2029, PDI-P tanpa Jokowi vs PSI dengan Jokowi," pungkas Dede dalam unggahannya, Sabtu, 19 September 2026.

Menurut Dede, kenaikan suara partai tidak terjadi secara tiba-tiba maupun karena berbagai teori yang beredar di media sosial. Ia menyebut ada efek ekor jas atau coattail effect dari figur calon presiden yang dipilih masyarakat.

"Belajar dari pemilu langsung. Partai naik karena figur yang dipilih rakyat. Bukan karena mantra, apalagi teori konspirasi ala netizen sontoloyo," tegas Dede.

Untuk mendukung pandangannya, Dede membandingkan perjalanan Partai Demokrat pada era Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan PDI-P ketika Jokowi menjadi calon presiden. Menurut dia, perubahan suara kedua partai tersebut menunjukkan pola yang berbeda ketika figur presiden yang diasosiasikan dengan partai masih berada di panggung elektoral.

Pada Pemilu 2004, ketika masih tergolong partai baru, Demokrat memperoleh 7,45 persen suara. Lima tahun kemudian, perolehan suara Demokrat melonjak menjadi 20,85 persen pada Pemilu 2009, saat SBY kembali maju dan memenangkan pemilihan presiden.

Dede kemudian menyoroti kondisi Demokrat setelah SBY tidak lagi menjadi calon presiden. Pada Pemilu 2014, perolehan suara Demokrat turun menjadi 10,19 persen, setelah sebelumnya mencapai 20,85 persen pada 2009.

Pola serupa kemudian ia kaitkan dengan PDI-P dan Jokowi. Pada Pemilu 2014, PDI-P memperoleh 18,95 persen suara, kemudian 19,33 persen pada Pemilu 2019 ketika Jokowi kembali maju sebagai calon presiden.

Namun, perolehan suara PDI-P pada Pemilu 2024 turun menjadi 16,72 persen. Pada saat yang sama, Jokowi tidak lagi maju sebagai calon presiden dan PDI-P mengusung Ganjar Pranowo sebagai kandidat presiden bersama Mahfud MD.

Dede melihat rangkaian angka tersebut sebagai pola yang menunjukkan hubungan antara figur presiden dan performa elektoral partai. Ia menyebut pengaruh figur tidak selalu menghasilkan lonjakan yang sama karena kondisi awal masing-masing partai juga berbeda.

"Pola yang sama: Figur presiden mengangkat mesin partai. Figur selesai, partai turun. Demokrat meledak karena mulai dari partai baru. PDIP sudah besar, jadi naiknya sedang, jatuhnya sedang," jelasnya.

Baca Juga: Sisi Lain Sidang Ijazah Jokowi: Roy Suryo, Tifa, dan Jokowi Sama-Sama Diuntungkan

Dari pembacaan tersebut, Dede kemudian mengarahkan perhatian ke Pemilu 2029. Ia menempatkan PDI-P dan PSI sebagai dua contoh berbeda untuk menguji apakah kekuatan figur yang pernah menjadi presiden masih berkaitan dengan performa partai pada pemilu mendatang.

PDI-P sendiri tidak lagi berada dalam konfigurasi politik yang sama dengan Jokowi. Sementara itu, Jokowi belakangan dikaitkan dengan perkembangan kekuatan politik PSI menjelang 2029, sehingga Dede menggunakan kedua partai tersebut sebagai pembanding dalam analisanya.

Namun, pernyataan Dede tersebut merupakan pembacaan atas pola hasil pemilu sebelumnya, bukan kepastian mengenai hasil Pemilu 2029. Besarnya suara partai dalam pemilu dapat dipengaruhi berbagai faktor lain, termasuk kandidat, mesin partai, koalisi, isu kampanye, serta pilihan pemilih.

Karena itu, pertarungan yang disebut Dede sebagai "PDI-P tanpa Jokowi vs PSI dengan Jokowi" lebih tepat dilihat sebagai gambaran konfigurasi politik yang menurutnya menarik untuk diuji pada Pemilu 2029. Apakah efek figur akan kembali terlihat atau justru pola elektoral berubah, hasilnya baru dapat diketahui setelah kontestasi berlangsung.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Wahyu Pratama