Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

100 Tahun Gontor, Ibas Ajak Santri Hadapi Era AI Berakar pada Iman dan Akhlak

100 Tahun Gontor, Ibas Ajak Santri Hadapi Era AI Berakar pada Iman dan Akhlak Kredit Foto: Istimewa
Warta Ekonomi, Jakarta -

Pondok Modern Darussalam Gontor memasuki usia satu abad pada 2026. Momentum tersebut menjadi refleksi atas perjalanan panjang pendidikan Islam sekaligus penanda dimulainya tantangan baru dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan iman, akhlak, dan nilai kemanusiaan.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (EBY) saat menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor 1926–2026.

EBY mengajak keluarga besar Gontor tidak hanya melihat usia 100 tahun sebagai perjalanan sejarah, tetapi juga sebagai momentum untuk menyiapkan arah pendidikan dan peradaban pada satu abad berikutnya.

Ia memberikan penghormatan kepada para pendiri Gontor atau Trimurti, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fannanie, dan KH Imam Zarkasyi, yang meletakkan fondasi pendidikan Gontor sejak 20 September 1926.

Menurut EBY, perkembangan dunia berlangsung sangat cepat. Teknologi telah bergerak dari era radio dan televisi menuju internet hingga artificial intelligence (AI). Namun, di tengah perubahan tersebut, nilai seperti iman, ilmu, akhlak, kemandirian, dan keikhlasan tetap memiliki relevansi.

Karena itu, ia menilai kemajuan teknologi justru perlu diimbangi dengan penguatan adab dan karakter. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan manusia yang memiliki kecerdasan tinggi, tetapi juga pribadi yang dapat dipercaya dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

EBY juga mengingatkan para santri agar tidak melihat kehidupan pesantren sebagai sesuatu yang tertinggal dari perkembangan zaman. Santri justru perlu menjadi bagian dari masa depan dengan menguasai ilmu pengetahuan, bahasa, teknologi, serta memahami perkembangan dunia.

Namun, penguasaan tersebut harus tetap disertai fondasi iman dan akhlak. Menurutnya, Indonesia tidak hanya membutuhkan orang pintar, tetapi juga orang pintar yang dapat dipercaya.

Perkembangan teknologi digital dan AI menjadi salah satu perhatian EBY dalam pesannya kepada generasi muda, khususnya Generasi Z dan Generasi Alpha.

Ia mendorong para santri untuk tidak takut terhadap perubahan teknologi. Teknologi, menurutnya, harus ditempatkan sebagai alat untuk menciptakan manfaat, bukan sesuatu yang mengendalikan kehidupan manusia.

Media sosial juga perlu digunakan secara bijak. Selain itu, generasi muda harus tetap memiliki kendali atas identitas dan arah kehidupannya di tengah kuatnya pengaruh algoritma digital.

EBY menekankan bahwa algoritma dapat memengaruhi apa yang dilihat seseorang, tetapi tidak seharusnya menentukan siapa dirinya. Karakter, nilai, dan iman tetap menjadi dasar dalam menentukan arah kehidupan.

Kepada para alumni, EBY berpesan agar nilai-nilai yang diperoleh selama berada di pondok tetap dibawa ketika kembali ke tengah masyarakat.

Menurutnya, keberadaan Gontor tidak berhenti ketika seorang santri meninggalkan lingkungan pondok. Nilai-nilai Gontor tetap dapat hadir melalui kiprah para alumninya di berbagai bidang.

Alumni yang menjadi guru dengan penuh keikhlasan, pengusaha yang menjunjung kejujuran, maupun pemimpin yang amanah dinilai tetap membawa nilai-nilai Gontor dalam kehidupan mereka.

Pesan tersebut sejalan dengan tema peringatan 100 tahun Gontor, yakni “Gontor Menghadirkan Nilai-Nilai Islam, Membangun Peradaban Utama”.

EBY menilai tema tersebut menunjukkan bahwa Islam tidak hanya mengajarkan kesalehan pribadi, tetapi juga mendorong pembangunan kehidupan yang berilmu, berkeadilan, berakhlak, menghargai perbedaan, dan memberikan manfaat bagi sesama.

Memasuki satu abad berikutnya, EBY menyebut tantangan Gontor tidak semakin ringan. Perubahan dunia menuntut pendidikan yang mampu mempertahankan akar nilai sekaligus terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ia memaknai 100 tahun pertama sebagai sejarah, sedangkan 100 tahun berikutnya sebagai tanggung jawab.

EBY berharap Gontor terus melahirkan generasi yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi tetap berakar pada nilai-nilai Islam.

Menurutnya, masa depan membutuhkan generasi yang dapat membangun peradaban modern tanpa kehilangan akhlak dan kemanusiaan. Kemajuan teknologi perlu berjalan bersama penguatan karakter dan nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Genap 100 Tahun, Gontor Persembahkan Dua Karya untuk Prabowo

Pada kesempatan tersebut, EBY juga menyampaikan ucapan selamat atas satu abad perjalanan Pondok Modern Darussalam Gontor. Ia berharap Gontor terus menghadirkan nilai-nilai Islam, melahirkan generasi berilmu dan berakhlak, serta memberikan kontribusi bagi pembangunan peradaban Indonesia dan dunia.

Khusus kepada para santri, EBY berpesan agar berani memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu dan teknologi, memahami perkembangan dunia, namun tetap menjaga adab.

Ia optimistis Gontor akan terus menjalankan perannya dalam menghadirkan nilai-nilai Islam dan membangun peradaban utama pada satu abad berikutnya.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat