Panen Melon di Sumberdodol, Ibas Dorong Agrowisata Jadi Penggerak Ekonomi Desa
Kredit Foto: Istimewa
Wakil Ketua MPR RI sekaligus Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas), mendorong pengembangan pertanian produktif dan agrowisata berbasis masyarakat sebagai penggerak ekonomi kerakyatan di Kabupaten Magetan, Jawa Timur.
Hal itu disampaikan Ibas saat menghadiri panen melon dan temu masyarakat bersama kelompok tani di Desa Sumberdodol, Jumat (30/10). Dalam kegiatan tersebut, ia meninjau budidaya melon berbasis greenhouse yang dikelola kelompok tani di bawah koordinasi Suparmin.
Ibas mengapresiasi petani yang mengembangkan tiga varietas melon, yakni Sakata Glamour, Sweet Lavender, dan Kirani. Menurutnya, budidaya melon berkualitas di Magetan menunjukkan potensi pertanian dalam negeri yang dapat dikembangkan melalui teknologi dan pengelolaan yang tepat.
Di lokasi, Ibas melihat penerapan greenhouse, irigasi otomatis, serta penggunaan media tanam cocopeat dan sekam bakar. Suparmin menjelaskan, masa budidaya melon hingga panen berkisar 70 hari. Kelompok tani juga terus mengembangkan varietas untuk menyesuaikan karakteristik tanaman dengan kondisi lingkungan dan permintaan pasar.
Ibas berdialog dengan petani mengenai perawatan tanaman, media tanam, dan tantangan menjaga kualitas produksi. Ia juga ikut memanen dan mencicipi ketiga varietas melon yang dikembangkan kelompok tersebut.
Selain produksi buah, kelompok tani mengembangkan wisata petik melon yang terbuka untuk masyarakat. Pengunjung dapat melihat proses budidaya, mengenal varietas buah, dan memetik melon secara langsung.
Menurut pengelola, agrowisata tersebut telah menarik pengunjung dari sejumlah daerah, antara lain Madiun, Ngawi, dan Solo. Kawasan itu juga dikunjungi perguruan tinggi untuk kegiatan pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Ibas menilai agrowisata dapat membuka peluang ekonomi bagi usaha warga, termasuk kuliner, produk UMKM, oleh-oleh, dan jasa pendukung pariwisata desa. Ia menyebut Magetan memiliki potensi lain, seperti jeruk pamelo, stroberi, sayuran, dan produk peternakan.
Dalam dialog bersama kelompok tani, Ibas menyoroti pentingnya ketersediaan benih, pupuk, fasilitas pertanian, dan kepastian pasar. Suparmin menyampaikan bahwa harga benih melon masih relatif tinggi dan sebagian kebutuhan benih dipenuhi melalui pembelian daring.
Ibas mendorong penguatan pembibitan lokal agar petani dapat memperoleh benih berkualitas dengan harga lebih terjangkau. Ia juga menekankan perlunya perencanaan budidaya, mulai dari jadwal tanam dan pemupukan hingga panen, biaya operasional, dan pemasaran.
Ia turut meminta agar pupuk tersedia dengan harga terjangkau dan distribusinya tepat sasaran. Menurutnya, kepastian benih, pupuk, fasilitas, dan pasar akan membantu petani mengembangkan usaha.
Dalam kegiatan itu, Ibas juga memberikan bantuan kepada kelompok tani sebagai dukungan untuk pengembangan pertanian dan agrowisata. Ia berharap model greenhouse melon di Sumberdodol dapat menjadi contoh bagi desa lain sesuai dengan kondisi wilayah masing-masing.
Temu masyarakat tersebut dihadiri sekitar 1.000 warga dan mengangkat tema “Buah Melon Mendunia: Optimalisasi Peluang Agrowisata dalam Penguatan Ekonomi Desa”. Ibas mengajak masyarakat menjaga kerukunan dan gotong royong, serta memberi perhatian pada pendidikan generasi muda.
Ia berharap pengembangan pertanian dan agrowisata dapat menjadi sumber penghidupan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: