Wakil Ketua MPR RI Ibas Ajak Santriwati Gontor Ambil Peran dalam Indonesia Emas 2045
Kredit Foto: Istimewa
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) mengajak santriwati Pondok Modern Darussalam Gontor Putri Kampus 1 untuk berani memiliki cita-cita besar, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menjaga akhlak. Ia menilai generasi muda, termasuk lulusan pesantren, memiliki peran penting dalam menentukan masa depan Indonesia.
Pesan tersebut disampaikan Ibas saat memberikan kuliah umum bertajuk “Tantangan Global Kepemimpinan Generasi Muda Menuju Indonesia Emas 2045” di Gontor Putri Kampus 1, Mantingan, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, Jumat (30/10). Kegiatan itu diikuti sekitar 2.000 santriwati.
Dalam kesempatan tersebut, Ibas juga mengapresiasi kontribusi keluarga besar Gontor dalam bidang pendidikan dan pembentukan karakter. Ia mengajak para santriwati melanjutkan cita-cita para pendiri Gontor, yakni KH Ahmad Sahal, KH Zainuddin Fananie, dan KH Imam Zarkasyi, yang membangun pendidikan berlandaskan ilmu, akhlak, dan pengabdian.
Menurut Ibas, peringatan satu abad Gontor bukan sekadar menandai perjalanan lembaga pendidikan, tetapi juga menjadi momentum untuk meneruskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi berikutnya.
Dalam kuliah umumnya, Ibas mengajak para santriwati membayangkan Indonesia saat merayakan satu abad kemerdekaan pada 2045. Ia berharap Indonesia menjadi negara maju dengan masyarakat sejahtera, ilmu pengetahuan berkembang, persatuan terjaga, serta nilai agama dan kebangsaan tetap kuat.
Ia menegaskan bahwa masa depan bangsa turut ditentukan oleh generasi muda yang saat ini sedang menempuh pendidikan dan membangun karakter.
Karena itu, Ibas mengingatkan agar para santriwati tidak membatasi cita-cita karena latar belakang pendidikan pesantren. Menurutnya, mereka memiliki kesempatan untuk berkiprah sebagai ilmuwan, dokter, pendidik, diplomat, pengusaha, ahli teknologi, hingga politisi dan anggota parlemen.
Pendidikan pesantren, kata dia, justru dapat menjadi bekal untuk mengambil peran lebih luas di tengah masyarakat. Ia juga mengingatkan bahwa Islam memberikan kedudukan tinggi kepada orang-orang yang beriman dan berilmu, sebagaimana tercantum dalam Surah Al-Mujadilah ayat 11.
Ibas turut menyoroti perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang mengubah cara manusia belajar, bekerja, dan berinteraksi. Menurutnya, generasi muda tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga perlu mampu menciptakan gagasan dan solusi bagi persoalan masyarakat.
Di tengah derasnya arus informasi, santriwati juga perlu memiliki kemampuan membedakan fakta dan berita bohong. Penguasaan teknologi, bahasa, dan ilmu pengetahuan harus disertai kemampuan berpikir kritis serta keterampilan yang terus dikembangkan.
Namun, Ibas mengingatkan bahwa kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan penguatan iman dan akhlak. Kejujuran, amanah, kedisiplinan, kerendahan hati, serta penghormatan kepada guru tetap harus menjadi pedoman.
Ia menyebut tiga bekal utama untuk menghadapi masa depan, yakni ilmu, akhlak, dan karya nyata. Ilmu harus mendorong seseorang untuk berpikir kritis dan mampu menyelesaikan persoalan. Akhlak menjadi landasan perilaku, sedangkan karya nyata merupakan bentuk penerapan pengetahuan dan nilai-nilai tersebut.
Ibas juga mendorong para santriwati mulai memberikan manfaat dari lingkungan terdekat. Hal itu dapat dilakukan dengan membantu teman belajar, menjaga kebersihan lingkungan, menciptakan gagasan baru, maupun terlibat dalam kegiatan sosial.
Dalam kapasitasnya sebagai Wakil Ketua MPR RI, Ibas turut mengingatkan pentingnya Pancasila, konstitusi, dan persatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, nasionalisme tidak hanya diwujudkan melalui simbol atau ucapan cinta tanah air, tetapi juga melalui tanggung jawab terhadap masa depan bangsa. Belajar dengan sungguh-sungguh, menjaga kejujuran, menghormati perbedaan, dan bekerja untuk kepentingan bersama merupakan bagian dari pengabdian kepada Indonesia.
Ia mengajak santriwati menjaga persatuan di tengah keberagaman serta berkontribusi bagi masyarakat yang adil, demokratis, dan sejahtera. Ibas juga mengajak seluruh peserta mendoakan rakyat Palestina agar memperoleh kemerdekaan, perdamaian, dan keselamatan.
Menutup kuliah umum, Ibas menitipkan tiga pertanyaan sebagai bahan refleksi bagi para santriwati: ilmu apa yang akan terus ditingkatkan, akhlak apa yang perlu diperbaiki, dan karya apa yang akan mulai dilakukan untuk memberikan manfaat kepada orang lain.
Baca Juga: Panen Melon di Sumberdodol, Ibas Dorong Agrowisata Jadi Penggerak Ekonomi Desa
Ia berharap Gontor terus melahirkan generasi yang kuat keimanannya, luas wawasan, unggul dalam ilmu, luhur akhlaknya, serta memiliki pengabdian nyata bagi bangsa.
Dalam kegiatan tersebut, Wakil Pengasuh Gontor Putri Kampus 1, Al-Ustadz Mujib Abdurrahman, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Ibas. Ia menyebut keluarga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono memiliki kedekatan historis dengan dunia pesantren.
Turut hadir Wakil Direktur Kulliyyatu-l-Mu'allimat Al-Islamiyyah (KMI) Gontor Putri Kampus 1, Al-Ustadz H. Arif Irfanuddin, beserta jajaran pimpinan, pengasuh, tenaga pendidik, dan sekitar 2.000 santriwati.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Amry Nur Hidayat
Editor: Amry Nur Hidayat
Tag Terkait: