Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
PT PLN (Persero) mulai menghitung mundur tahapan pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di Indonesia. Perusahaan setrum negara itu menargetkan proses pelelangan proyek nuklir dapat dimulai pada awal Januari 2027.
Direktur Teknologi, Engineering dan Keberlanjutan PLN, Evy Haryadi, mengatakan percepatan tahapan tersebut diperlukan karena pembangunan pembangkit nuklir memiliki waktu pengerjaan yang jauh lebih panjang dibandingkan pembangkit konvensional.
"Sehingga nanti diharapkan pada awal Januari 2027 sudah bisa dimulai pelelangan dari nuklir ini," ujar Evy dalam paparannya pada Energy Week 2026, Jakarta, Selasa (22/9/2026).
Evy menjelaskan pembangunan pembangkit nuklir tidak dapat dilakukan secara cepat seperti pembangkit berbasis gas maupun batu bara. Menurut dia, proyek nuklir membutuhkan rangkaian panjang mulai dari kajian kelayakan, proses pelelangan, pendanaan, konstruksi, hingga tahap pengoperasian.
Baca Juga: Indonesia Mulai Dilirik Rusia untuk Kerja Sama Nuklir Sipil, Putin Kembali Buka Tawaran ke Prabowo
Baca Juga: Berpotensi Kalah di Darat, Trump Disebut Pertimbangkan Serang Iran Pakai Nuklir
''Pembangunan untuk nuklir tersebut tidak bisa seperti gas atau PLTU yang hanya membutuhkan waktu 5 sampai 7 tahun. Ini memerlukan waktu 10, 12, bahkan 15 tahun," jelasnya.
Pengembangan nuklir menjadi salah satu bagian dari rencana transformasi sistem kelistrikan PLN. Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025–2034, PLN memasukkan pembangkit nuklir dengan kapasitas awal sebesar 2x250 Mega Watt di Kalimantan Barat dan Bangka Belitung.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra