Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Hitung-hitungan Beban Ekologis di Balik Megaproyek Data Center Nasional

Hitung-hitungan Beban Ekologis di Balik Megaproyek Data Center Nasional Kredit Foto: PLN

Pertumbuhan proyek data center di Batam menghadapi tantangan daya dukung lingkungan, terutama terkait ketersediaan air baku.

Pada Agustus 2026, pemerintah daerah masih harus menjaga kontinuitas layanan air bersih masyarakat di tengah penurunan volume Waduk Nongsa akibat rendahnya curah hujan.

Pada saat yang sama, sedikitnya 16 data center berada dalam berbagai tahap pembangunan di Kota Batam.

Kekhawatiran publik bukan hanya mengenai perkembangan teknologi, tetapi juga kemampuan infrastruktur air dalam menopang industri tersebut.

Data center berskala besar dapat membutuhkan air sekitar 1 juta hingga 5 juta liter per hari, tergantung teknologi pendinginan yang digunakan.

Direktur Promosi dan Fasilitasi Investasi BP Batam, Dendi Gustinandar, mengatakan keterbatasan sumber air menjadi salah satu perhatian dalam pengembangan investasi baru.

"Batam adalah daerah yang tidak punya sumber air. Air kita berasal dari curah hujan. Karena itu sejak dulu Batam membangun proyek waduk. Saat ini ada delapan waduk," kata Dendi di Politeknik Negeri Batam, Minggu (20/9/2026).

Jatiluhur dan Pertarungan antara Investasi Digital dan Daya Dukung Lingkungan

Persoalan kebutuhan air dalam pembangunan data center juga muncul di Jawa Barat. Rencana pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di kawasan Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, menjadi sorotan karena berkaitan dengan penggunaan sumber daya air yang juga menopang kebutuhan pertanian.

Proyek AI Campus 2 (CGK4) yang dikembangkan di kawasan seluas sekitar 11 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp3,5 triliun tersebut dihentikan sementara setelah Pemerintah Provinsi Jawa Barat menemukan sejumlah dokumen perizinan yang belum lengkap.

Dua dokumen yang menjadi perhatian utama adalah Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Persoalan tersebut menjadi semakin penting karena fasilitas data center itu dirancang memiliki kapasitas listrik hingga 640 megawatt (MW) dengan sistem pendinginan cair yang membutuhkan sumber daya dalam jumlah besar.

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Dwi Aditya Putra

Tag Terkait: