Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Mengurai Peran Danantara sebagai Katalis Blended Finance untuk Infrastruktur Nasional

Oleh: Arief Puyono, Komisaris Pelindo

Mengurai Peran Danantara sebagai Katalis Blended Finance untuk Infrastruktur Nasional Kredit Foto: Danantara

Mengapa Danantara memiliki Mandat Pembangunan Infrastruktur

Berbeda dengan bank komersial atau dana ekuitas swasta yang beroperasi dalam jangka waktu lebih pendek, Danantara merupakan mempuyai tugas mengelola kekayaan lintas generasi; artinya, tujuan investasi mereka ditetapkan dalam hitungan dekade, bukan kuartal.

Karena investasi Danantara pada asset-aset infrastruktur seperti jalan tol, utilitas dengan regulasi tarif, atau kontrak sewa jangka Panjang yang sering kali memiliki aliran pendapatan yang secara kontraktual terkait dengan inflasi. Hal ini menjadikannya sarana lindung nilai yang sangat efektif terhadap penurunan daya beli seiring berjalannya waktu, yang merupakan perhatian utama bagi pengelolaan Danantara dalam jangka panjang.

Danantara juga memiliki cakrawala investasi yang praktis tidak terbatas dan tidak terbebani oleh kewajiban jangka pendek yang mendesak. Kondisi ini memungkinkan Danantara untuk berkomitmen pada siklus hidup proyek infrastruktur yang mencapai 25–50 tahun, sebuah stabilitas yang jarang dapat ditandingi oleh jenis investor lainnya.

Dalam investasi Aset infrastruktur inti yang dikelola oleh Danantara akan menghasilkan arus kas yang stabil dan dapat diprediksi, sehingga membantu meredam volatilitas portofolio suatu hal yang krusial bagi dana negara berskala besar yang mengelola kekayaan negara.

Oleh karena itu, kemampuan pemerintah untuk menciptakan dan memfasilitasi penerapan blended finance yaitu penggunaan dana publik yang ditargetkan untuk memobilisasi dan menarik masuk (crowd-in) pendanaan swasta ke dalam proyek investasi atau fasilitas pembiayaan tertentu—menjadi hal yang sangat krusial.

Blended finance lebih dari sekadar mekanisme untuk melengkapi dana pemerintah dengan dana dari sumber komersial atau institusional. Pendekatan ini juga dapat mengaktifkan serta memanfaatkan keahlian teknis dan kemampuan implementasi dari berbagai pihak, seperti organisasi masyarakat sipil, lembaga filantropi, bank pembangunan, dan institusi swasta yang berorientasi laba

Danantara dapat memainkan peran penting dalam meningkatkan arus investasi, namun strategi serta keselarasan strategi tersebut dengan kebijakan pemerintah perlu dirumuskan secara jelas. Kendati demikian, hanya sedikit pemerintah baik di negara maju maupun berkembang yang memiliki strategi dan rencana investasi yang terumuskan dengan baik untuk infrastruktur berkelanjutan. Infrastruktur berkelanjutan dan urbanisasi perlu ditempatkan sebagai inti dari rencana nasional jangka panjang terkait reformasi keuangan dan strategi industri. 

Langkah ini sudah mulai dilakukan secara awal di beberapa negara. Namun, rencana nasional dan strategi industri yang mampu memberikan insentif pasar bagi transformasi pembiayaan infrastruktur perkotaan sangat dibutuhkan di negara-negara pada berbagai tingkat pembangunan. Pemerintah secara nasional juga berperan besar dalam menciptakan kondisi pasar yang mampu menarik modal sektor swasta ke dalam program infrastruktur berkelanjutan. 

Investasi langsung pemerintah dapat menjadi landasan yang menunjukkan komitmen jangka panjang, membangun kapasitas, serta menyediakan bukti kinerja yang diperlukan untuk mengarah pada pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi, untuk memfasilitasi masuknya sumber modal swasta yang jauh lebih besar, diperlukan kombinasi tindakan non-keuangan di luar investasi langsung, seperti penerapan kebijakan, standar, dan regulasi yang mendukung, penggunaan sinyal harga, serta peningkatan arus informasi.

Agar Danantara dapat berperan sebagai katalis bagi pembiayaan campuran, diperlukan perumusan strategi Danantara yang jelas dan selaras dengan strategi nasional Pembangunan jangka panjang. Hal ini sangat penting untuk menjawab pertanyaan mengenai bagaimana Danantar sebagai agen negara dalam situasi keterbatasan modal dapat menjadi mitra kelembagaan yang kredibel dalam memobilisasi arus masuk modal investasi asing yang baru.

Perlu langkah-langkah efektif bagi Danantara untuk mengatasi hambatan utama investasi. Hambatan-hambatan utama tersebut dapat berupa risiko politik dan mata uang, cakrawala waktu investasi, kurangnya informasi, serta risiko rendahnya tingkat pengembalian investasi. Untuk merumuskan strategi yang selaras dengan strategi nasional jangka Panjang,

Danantara haru menjadi nilai tambah (additionality) sebagai yang memiliki mandat di bidang infrastruktur serta dapat memainkan peran krusial dalam mengatasi masalah ketidaksempurnaan informasi, yang menjadi hambatan bagi banyak investor internasional yang belum mengenal pasar negara berkembang seperti Indonesia dan kondisi local Danantara harus memiliki Strategi mengenai bagaimana berinteraksi dengan berbagai pihak serta memahami profil risiko dan imbal hasil mereka. 

Pendekatan pendanaan campuran (blended finance) oleh Danantara memungkinkan berbagai penyandang dana untuk mengumpulkan modal bagi proyek-proyek yang terlalu besar atau terlalu berisiko untuk ditanggung sendiri oleh satu entitas. Ini merupakan cara untuk memadukan berbagai jenis dan sumber modal yang memiliki selera risiko, ekspektasi tingkat pengembalian, dan cakrawala investasi yang berbeda-beda. Pendanaan campuran paling optimal diterapkan pada proyek dan struktur pembiayaan yang tingkat kelayakan komersialnya baik secara nyata maupun persepsi—berada sedikit di bawah standar pasar, serta tidak dapat direalisasikan hanya melalui kebijakan dan lingkungan kelembagaan yang mendukung .

Danantara dapat menjadi langkah awal yang penting dalam memitigasi sejumlah hambatan bagi masuknya modal internasional dan investor swasta. Danantara juga dapat mengonsolidasikan berbagai proyek berskala kecil yang sebelumnya tidak sesuai dengan strategi investasi yang melibatkan belanja modal (capex) besar. Pendanaan campuran lebih dari sekadar mekanisme untuk melengkapi dana pemerintah dengan dana dari sumber komersial atau institusional. Pendekatan ini juga dapat mengaktifkan dan menarik keahlian teknis serta kemampuan implementasi dari berbagai pihak, seperti organisasi masyarakat sipil, lembaga filantropi, bank pembangunan, dan institusi swasta yang berorientasi laba 

Pembangunan dengan kapasitas investasi internal merujuk pada kegiatan di mana Danantara memperluas keterlibatannya dalam pengelolaan portofolio secara langsung dan harian di berbagai kelas aset. Pembangunan kapasitas memerlukan strategi untuk mengidentifikasi mitra di sepanjang rantai nilai investasi proyek. Investasi bersama (co-investment) yang dilakukan Danantara memungkinkan investor untuk memanfaatkan keahlian spesialis dan memperoleh pengalaman penting dalam transaksi pasar yang belum siap mereka lakukan secara mandiri. Seperti National Infrastructure Investment Fund milik India melakukan investasi bersama dan bermitra dengan ADIA, Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB), Asian Development Bank (ADB), New Development Bank, Temasek, dan Ontario Teachers' Pension Plan.

Baca Juga: Ekspor Perdana, Danantara Kawal Hilirisasi Baterai EV dari Halmahera Tengah

Meskipun berbagai dana kekayaan negara dengan mandat infrastruktur dinegara lain seperti halnya Danantara memiliki banyak kesamaan karakteristik dinegara lain ,dimana dana-dana tersebut tetap sangat beragam dalam hal ukuran, struktur kewajiban, dan sumber pendanaannya. dana kekayaan negara yang memiliki sumber pendanaan "non-tradisional" seperti pajak khusus, hasil utang dengan jaminan, privatisasi, atau pengelolaan restrukturisasi BUMN melibatkan berbagai pihak baru yang berdampak pada tata kelola dan koordinasi dana kekayaan negara . 

Pihak-pihak yang terlibat dalam dialog kebijakan mau tidak mau akan meluas dari sekadar kementerian keuangan dan bank sentral ke departemen pemerintah lainnya, seperti yang menangani pengelolaan BUMN, dan pembangunan ekonomi. Seiring dengan semakin banyaknya pihak pendukung yang terlibat dalam lingkungan pengambilan keputusan domestik terkait Danantara , kebutuhan untuk menyusun kerangka kerja strategis nasional yang jelas yang menghubungkan kebijakan investasi Danantara dengan tujuan strategis jangka panjang negara menjadi semakin penting.

Danantara juga dituntut mengunakan pendekatan tata kelola baru yang selaras dengan upaya menangani isu global seperti perubahan iklim serta kebutuhan infrastruktur domestik; kombinasi unik dari karakteristik ini menciptakan struktur dan tantangan tata kelola yang khas, sehingga memerlukan pendekatan yang berbeda pula.

Danantara harus memadukan tujuan dana tersebut dengan sasaran strategis jangka panjang perekonomian serta mendorong masuknya investasi. Kerangka kerja semacam itu tidak hanya memberikan panduan terkait koordinasi tata kelola antar-entitas nasional, tetapi juga meningkatkan kepastian jangka panjang

Halaman:

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Editor: Dwi Aditya Putra