Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Perang AS-Iran Tekan Industri, Harga Kebutuhan Pokok Bakal Melonjak Lagi pada 2027

Perang AS-Iran Tekan Industri, Harga Kebutuhan Pokok Bakal Melonjak Lagi pada 2027 Kredit Foto: Sufri Yuliardi
Warta Ekonomi, Jakarta -

Sejumlah raksasa barang konsumsi global, mulai dari Coca-Cola, Procter & Gamble (P&G), Nestlé hingga Reckitt, memperingatkan potensi kenaikan harga produk pada 2027. Lonjakan biaya energi, bahan baku, dan pengiriman akibat perang AS-Iran menekan margin keuntungan perusahaan ketika konsumen semakin enggan membayar lebih mahal untuk kebutuhan sehari-hari.

Tekanan biaya tersebut menempatkan perusahaan barang konsumsi dalam dilema antara mempertahankan profitabilitas dan menjaga permintaan pasar. Kenaikan harga berisiko membuat konsumen mengurangi pembelian, sementara menahan harga dapat menggerus margin keuntungan.

Henrique Braun, CEO Coca-Cola, mengatakan tekanan terhadap konsumen berpotensi berlanjut hingga 2027. Dia menyebut kenaikan biaya logistik dan transportasi menjadi salah satu faktor yang membebani perusahaan. Pada saat yang sama, Coca-Cola menaikkan proyeksi laba tahunannya.

Tekanan biaya juga terlihat di Procter & Gamble. Perusahaan pembuat deterjen Tide tersebut menaikkan estimasi dampak kenaikan harga bahan baku, energi, dan pengiriman terhadap laba menjadi US$1,4 miliar, dari proyeksi sebelumnya US$1 miliar.

CFO P&G Andre Schulten menilai kenaikan harga menjadi salah satu cara yang tersisa bagi industri untuk mengimbangi lonjakan biaya produksi.

“Pada tingkat tekanan harga komoditas seperti ini, industri secara umum menaikkan harga karena tidak ada cara untuk memulihkan tekanan biaya sebesar ini tanpa menaikkan harga,” ujar Schulten, mengutip Business Recorder, Jakarta, Rabu (28/10/2026). 

Namun, ruang untuk menaikkan harga semakin terbatas. Konsumen di Amerika Utara dan Eropa menghadapi tekanan daya beli setelah bertahun-tahun berhadapan dengan kenaikan harga produk kebutuhan sehari-hari. Perusahaan juga masih menghadapi tantangan penjualan yang relatif lesu sejak pandemi, ketika konsumen mulai mengurangi pembelian produk bermerek yang lebih mahal.

David Wagner, kepala ekuitas sekaligus manajer portofolio di Aptus Capital Advisors, mengatakan perusahaan kini semakin bergantung pada kenaikan harga untuk menjaga margin.

“Kenaikan harga adalah tuas terakhir yang masih dimiliki perusahaan-perusahaan ini, dan mereka menariknya dari konsumen yang sudah tidak sanggup membayar lebih,” kata Wagner.

Nestlé dan Reckitt Hadapi Dilema Harga

Tekanan biaya juga memaksa perusahaan mempertimbangkan ulang strategi harga dan promosi. CEO Reckitt Kris Licht mengatakan perusahaan harus menentukan seberapa besar kenaikan biaya yang diteruskan kepada konsumen dan seberapa besar yang dapat ditahan melalui peningkatan promosi.

Reckitt, produsen produk seperti Durex, memperkirakan masih perlu menaikkan harga jika biaya komoditas dan input produksi tetap tinggi. Perusahaan tersebut juga memangkas proyeksi pendapatan tahunan, yang diikuti penurunan saham sekitar 5% pada Selasa.

Sementara itu, Nestlé menghadapi risiko penurunan volume penjualan ketika harga dinaikkan. CFO Anna Manz mengatakan konsumen dapat mengurangi pembelian dalam jangka pendek sambil menyesuaikan diri terhadap perubahan harga.

Manz menegaskan perusahaan akan menaikkan harga sejauh masih memungkinkan tanpa merusak penetrasi pasar dalam jangka menengah.

Pernyataan tersebut muncul ketika Nestlé mencatat pertumbuhan volume penjualan kuartalan yang untuk pertama kalinya sejak 2024 melampaui pertumbuhan yang berasal dari kenaikan harga.

Kondisi itu menunjukkan bahwa strategi menaikkan harga tidak selalu menghasilkan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan. Jika harga terlalu tinggi, konsumen dapat mengurangi pembelian atau beralih ke produk alternatif yang lebih terjangkau.

Harga Tinggi Berisiko Tekan Permintaan

Lindt & Sprüngli juga menghadapi tantangan serupa. Pimpinan perusahaan cokelat asal Swiss itu mengakui perusahaan salah memperkirakan respons konsumen terhadap kenaikan harga. Pernyataan tersebut muncul beberapa hari setelah perusahaan mengganti CEO di tengah kekhawatiran terhadap kinerja bisnisnya.

Di sisi lain, PepsiCo telah berganti strategi antara menaikkan dan menurunkan harga sepanjang tahun untuk mendorong penjualan yang lesu. Namun, perusahaan tersebut tetap menghadapi tekanan margin pada kuartal terakhir.

Brian Mulberry, kepala strategi pasar di Zacks Investment Management, mengatakan konsumen masih bersedia berbelanja selama mereka melihat nilai yang sepadan dengan harga yang dibayar. Namun, ruang kenaikan harga untuk produk makanan ringan dinilai semakin terbatas.

Kenaikan biaya energi, bahan baku, dan logistik akibat perang AS-Iran berpotensi memperpanjang tekanan inflasi hingga tahun depan. Bagi perusahaan barang konsumsi, tantangan berikutnya adalah menyeimbangkan kebutuhan menjaga margin keuntungan dengan kemampuan konsumen membeli produk.

Jika kenaikan harga terus berlanjut, perusahaan berisiko kehilangan volume penjualan. Sebaliknya, jika harga ditahan ketika biaya produksi meningkat, profitabilitas dapat semakin tertekan. Strategi harga dan promosi pun menjadi faktor penting bagi perusahaan untuk menjaga daya saing di tengah melemahnya daya beli konsumen.

Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.

Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri