Aktivis Kuliti Alasan 'Filosofis' Rocky Gerung Gabung Wantimpres, Dari Oposisi ternyata Cari Posisi
Kredit Foto: Christian Andy
Aktivis Lukas Luwarso mengkritik keputusan pengamat politik Rocky Gerung menerima jabatan sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres).
Lukas menilai keputusan tersebut perlu dibungkus dengan berbagai dalih agar terkesan filosofis dan tidak terlihat sebagai perubahan sikap terhadap kekuasaan.
Rocky Gerung dilantik sebagai anggota Wantimpres bersama 25 figur lainnya setelah Presiden Prabowo Subianto membentuk kembali lembaga tersebut. Wantimpres sebelumnya kosong selama hampir dua tahun.
Sejumlah nama yang masuk dalam jajaran Wantimpres antara lain Pratikno, Anwar Usman, Margarito Kamis, Qodari, dan Rocky Gerung.
Lukas menyebut Rocky mengemukakan tiga alasan terkait keputusannya bergabung dengan lembaga tersebut. Pertama, tidak ada alasan untuk menolak tawaran. Kedua, Wantimpres memiliki kedudukan etis dan bukan bertugas mengevaluasi kebijakan teknis. Ketiga, dirinya hanya berpindah posisi dari luar ke dalam lingkaran kekuasaan sebagai bentuk radical break.
Namun, Lukas mempertanyakan konsistensi ketiga alasan tersebut dengan citra Rocky selama ini sebagai sosok yang kerap mengkritik kekuasaan dan menggaungkan pentingnya akal sehat.
"Mari kita uji, apakah ketiga dalih itu selaras dengan akal sehat yang sering ia gaungkan atau sekadar konstruksi kedunguan yang kerap ia lontarkan, atau ini hanya sebelumnya berlaku oposisi demi dapatkan posisi?," kata Lukas dalam siniar Asanesia, Jumat (30/10/2026).
Lukas menilai alasan Rocky bahwa dirinya tidak memiliki alasan untuk menolak tawaran jabatan sebagai dalih yang tidak logis.
Menurutnya, Rocky selama puluhan tahun membangun citra sebagai pengkritik kekuasaan. Karena itu, keputusan menerima jabatan di lingkaran pemerintahan dinilai bertolak belakang dengan sikap kritis yang selama ini ditampilkan.
Lukas kemudian mengaitkan keputusan tersebut dengan konsep transformismo yang diperkenalkan pemikir politik Antonio Gramsci.
Ia menilai fenomena tersebut menggambarkan penjinakan kelompok oposisi bukan melalui tekanan, melainkan dengan memberikan jabatan atau posisi dalam kekuasaan.
"Jika Rocky buntu pikiran, tidak punya alasan, mengapa harus menolak; mungkin perlu bertanya mengapa harus menerima? Pasti akan ketemu alasan yang valid: 'kekuasaan itu nikmat, jenderal...'” ujarnya.
Lukas juga mengkritik pernyataan bahwa Wantimpres memiliki kedudukan etis dan bukan bertugas mengevaluasi kebijakan teknis.
Ia mengibaratkan alasan tersebut seperti tim dokter yang hanya menjaga etika rumah sakit tanpa menangani penyakit pasien.
Menurut Lukas, posisi Wantimpres yang berada di lingkungan kepresidenan semestinya memungkinkan para anggotanya memberikan evaluasi terhadap kebijakan pemerintah, termasuk dari sisi pelaksanaan dan dampaknya bagi masyarakat.
Ia mencontohkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai kebijakan yang menurutnya perlu dievaluasi apabila ditemukan persoalan dalam pelaksanaannya.
“Etika kekuasaan diuji ketika harus mengatakan bahwa sebuah kebijakan, seperti MBG dan KDMP, keliru, tidak adil, atau merugikan publik,” kata Lukas.
Ia menilai kontroversi keputusan Rocky bukan semata-mata karena seorang pengkritik menerima jabatan di pemerintahan. Menurutnya, persoalan yang lebih mendasar adalah perubahan posisi intelektual dari pihak yang menguji kekuasaan menjadi bagian dari lingkaran kekuasaan.
Lukas Pertanyakan Penggunaan Istilah Radical Break
Dalih ketiga Rocky, yakni perpindahan dari luar ke dalam kekuasaan sebagai bentuk radical break, juga menjadi sasaran kritik Lukas.
Ia menilai penggunaan istilah tersebut terkesan pretensius dan mempertanyakan pemahaman Rocky terhadap konsep filsafat itu.
Menurut Lukas, radical break merupakan pemutusan kontinuitas pemikiran atau tradisi berpikir sebelumnya untuk membangun kerangka pemikiran yang baru.
Ia kemudian mencontohkan perubahan pemikiran Immanuel Kant setelah membaca karya David Hume serta perkembangan pemikiran Ludwig Wittgenstein dari buku Tractatus Logico-Philosophicus menuju Philosophical Investigations.
Lukas menilai kedua contoh tersebut menggambarkan perubahan mendasar dalam cara berpikir seorang filsuf, bukan sekadar perpindahan posisi dari luar ke dalam pemerintahan.
Kritik Lukas tersebut menjadi sorotan terhadap keputusan Rocky Gerung bergabung dengan Wantimpres, terutama karena selama ini ia dikenal luas melalui kritik terhadap kebijakan dan praktik kekuasaan.
Mau berita menarik lainnya? Follow WhatsApp Warta Ekonomi.
Penulis: Ferry Hidayat
Editor: Ferry Hidayat
Tag Terkait: