Portal Berita Ekonomi Jum'at, 31 Maret 2017

Perspektif Baru Bisnis & Ekonomi

Executive Brief
  • 00:50 WIB. Pilgub DKI - Plt Gubernur DKI minta RT/RW tidak ikut berkampanye.
  • 00:45 WIB. Jakarta - PLN siap pasok listrik untuk bandara Kertajati.
  • 00:44 WIB. Apindo - Pengusaha diminta manfaatkan paket kebijakan ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
  • 00:42 WIB. Pilgub DKI - Sandiaga enggan beritahu lokasi yang akan dibangun rumah DP 0%.
  • 00:41 WIB. KPK - Busyro Muqoddas minta DPR hentikan sosialisasi revisi UU KPK.
  • 00:40 WIB. Kuala Lumpur - PM Najib umumkan sembilan warganya telah pulang dari Korut.
  • 00:38 WIB. Pilgub DKI - Maarif Institute: Pilkada Jakarta menguras tenaga.
  • 00:38 WIB. Pajak - Bappebti terbitkan peraturan dukung UU amnesti pajak.
  • 00:37 WIB. BMKG - ¬†Waspada hujan disertai petir di wilayah Jaksel, Tangerang, Bekasi, Depok, dan Bogor pada Jumat siang hingga malam hari.
  • 00:30 WIB. Seoul - Samsung Electronics Co Ltd expects sales of its new flagship Galaxy S8 smartphone to beat those of its 2016 predecessor Galaxy S7.
  • 23:59 WIB. Washington - Volkswagen AG said on Thursday it has agreed to pay US$157.45 million to settle environmental claims from 10 U.S. states over its excess diesel emissions.
  • 23:57 WIB. London - Britain will tell Google, Facebook, Twitter, and Microsoft on Thursday to do more to stop extremists posting content.
  • 23:50 WIB. Detroit - Toyota Motor Corp will use artificial intelligence in new research to speed up the discovery of advanced battery materials.
  • 22:00 WIB. Aksi 313 - Johan Budi minta masyarakat yang ikut aksi 31 Maret untuk tertib.
  • 21:40 WIB. Stockholm - H&M invests in supply chain as fashion rivalry intensifies.

Pemerintah Perlu Benahi Tata Niaga dan Pasokan Hortikultura

Foto Berita Pemerintah Perlu Benahi Tata Niaga dan Pasokan Hortikultura
Warta Ekonomi.co.id, Jakarta -

Pemerintah perlu mengembangkan teknologi produksi hortikultura untuk komoditas pangan nusantara agar dapat mencegah kerentanan iklim seperti yang dialami cabai yang harganya melonjak akhir-akhir ini. "Kami melihat perkembangan teknologi produksi hortikultura kita masih tertinggal dari berbagai negara. Padahal dengan jumlah penduduk yang besar kebutuhan pangan menjadi sangat strategis," kata Wakil Ketua Fraksi PKS DPR RI Bidang Ekonomi dan Keuangan Ecky Awal Mucharam dalam rilis di Jakarta, Selasa (10/1/2017).

Menurut Ecky, kalau tidak ada kebijakan yang komprehensif dan berkelanjutan, akan menyebabkan kerentanan pangan dan fluktuasi harga yang terus berulang dan merugikan rakyat. Dia berpendapat bahwa lonjakan harga pangan setiap tahun yang terus berulang, seharusnya didekati dengan manajemen peningkatan produksi dan manajemen pasokan yang baik.

"Seringkali kita melihat untuk komoditas yang musiman selalu harganya jatuh saat panen berlimpah dan harga membumbung saat panen terbatas. Ini harusnya bisa diselesaikan jika ada kebijakan manajemen pasokan yang baik," katanya. Ecky mencontohkan, fluktuasi harga cabai sebenarnya sudah menjadi masalah klasik di Tanah Air, sehingga diperlukan adanya langkah komprehensif dan tepat untuk mengatasi masalah pasokan dan permintaan komoditas tersebut.

Untuk itu, ujar dia, pemerintah perlu membenahi tata niaga dan manajemen pasokan komoditas hortikultura, serta harus memangkas kartel-kartel pangan dan harus mengelola stok komoditas secara tepat. "Saya kira, pemerintah juga perlu serius menjalankan rencana untuk membangun gudang besar berpendingin (cold storage) seperti yang dimiliki Dubai untuk mengelola pangan-pangan strategis," katanya.

Hal tersebut, lanjutnya, ketika pasokan tinggi, pasokan yang ada bisa disimpan di gudang berpendingin itu untuk selanjutnya dapat digunakan pada saat produksi berkurang. Menurut Ecky, pengembangan teknologi produksi hortikultura yang harus ditingkatkan, selain mengembangkan produk olahan turunan untuk komoditas tersebut agar lebih tahan lama. Pengembangan varietas unggul yang tahan terhadap perubahan musim telah berkembang dan seharusnya dapat dikembangkan secara masif oleh pemerintah.

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo mengatakan kenaikan harga cabai rawit merah yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia belakangan ini disebabkan karena cuaca dan musim yang buruk pada 2016. "Yang namanya harga tergantung 'suplay' dan 'demand'. Kadang musiman dan kedua karena 2016 kualitas cabai jelek," kata Jokowi ditemui usai "blusukan" di Pasar Kanjen, Kabupaten Pekalongan pada Senin (9/1). Menurut Presiden Jokowi, harga komoditas yang fluktuatif bisa terjadi jika suplai terganggu akibat keadaan musim.

Sementara itu, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan bahwa kenaikan harga komoditas cabai rawit merah diakibatkan curah hujan tinggi, yang menyebabkan komoditas tersebut lebih cepat busuk dan mengurangi pasokan ke pasar konsumen.

Enggartiasto saat ditemui di Kementerian Perdagangan di Jakarta, Senin (9/1) mengatakan bahwa kenaikan harga cabai yang cukup signifikan hanya terjadi pada jenis cabai rawit merah. Sementara untuk jenis cabai merah besar, cabai keriting dan cabai rawit hijau cenderung mengalami penurunan. (Ant)

Tag: Pertanian, pemerintah, Cabai

Penulis: ***

Editor: Sucipto

Foto: Tri Yari Kurniawan

Kurs Rupiah

Mata Uang Simbol Jual Beli
Arab Saudi Riyal SAR 3,514.87 3,478.27
British Pound GBP 17,169.60 16,991.11
China Yuan CNY 1,989.13 1,969.21
Dolar Amerika Serikat USD 13,179.00 13,047.00
Dolar Australia AUD 10,171.55 10,063.15
Dolar Hong Kong HKD 1,699.24 1,682.01
Dolar Singapura SGD 9,827.01 9,722.78
EURO Spot Rate EUR 14,736.76 14,583.94
Ringgit Malaysia MYR 3,292.28 3,255.24
Yen Jepang JPY 13,026.59 12,889.75

Ringkasan BEI

No Name Today Change Stock
1 href="Download_Data/" />Download_Data/ - Mar
2 href="Market_Summary/" />Market_Summary/ - Mar
3 href="MockTestReporting/" />MockTestReporting/ - Feb
4 href="MockTestReportingDRC/" />MockTestReportingDRC/ - Dec
5 href="mock_isuite/" />mock_isuite/ - Dec
6 href="PSPNDC/" />PSPNDC/ - Mar
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10
No Code Prev Close Change %
1
2 f(n)
3 =
4
5
6
7
8
9 id="container">
10