Dilarang Beroperasi, Theranos Tutup Lab dan Pangkas 40 Persen Pekerja
Kredit Foto: Nytimes.com
Perusahaan alat tes darah kontroversial asal Amerika Serikat, Theranos, menutup klinik dan fasilitas medis serta memangkas jumlah karyawannya. Hal tersebut dilakukan tiga bulan setelah pendirinya dilarang terjun ke industri laboratorium selama dua tahun oleh pemerintah Amerika Serikat.
Theranos merupakan sebuah perusahaan perintis (startup) di bidang medis yang mengklaim mampu melakukan tes lab dari satu tetes darah saja. Theranos mengklaim bahwa teknologi mereka mampu menyediakan banyak informasi secara efisien. Bahkan, pengujian tersebut bisa dilakukan di mana saja dan tidak harus mengunjungi dokter atau laboratorium. Hasil dari tes tersebut bisa keluar dalam waktu empat jam.
Kontroversi mengenai Theranos berawal dari sebuah artikel di The Wall Street Journal pada bulan Oktober 2015. Dalam artikel tersebut, surat kabar harian yang berbasis di New York itu mempertanyakan keabsahan dan akurasi proses pengecekan darah pada teknologi Edison yang dikembangkan oleh Theranos.
Dari hasil penelusuran The Wall Street Journal, seorang mantan karyawan Theranos mengungkapkan pengecekan darah yang dilakukan perusahaan Silicon Valley tersebut tidak dapat diandalkan. Mereka mendapati bahwa sebenarnya Theranos menggunakan pihak ketiga untuk pengecekan sampel darah. Selain itu, hasil laporan sebuah lembaga independen bernama Centers for Medicare and Medicaid Services (CMS), menunjukkan adanya ketidakakuratan pada hasil tes yang dilakukan Theranos.
Setelah diselidiki oleh pihak berwenang, produk Edison ditetapkan sebagai alat kesehatan yang merugikan dan tidak memberikan hasil akurat kepada pasien dan membuat Theranos saat ini berada di bawah penyelidikan badan kriminal Amerika Serikat.
Theranos didirikan oleh Elizabeth Holmes, seorang enterpreneur muda berusia 32 tahun, yang memiliki pendapatan fantastis sebesar US$9 miliar. Namanya begitu melejit di dunia bisnis, hingga artikel di The Wall Street Journal yang diterbitkan pada bulan Oktober 2015 mencoreng namanya.
Sebelum menjadi pengusaha, Holmes adalah seorang mahasiswi Standford University, yang kemudian memilih drop out demi merintis bisnisnya sendiri di usia 19 tahun. Di usia yang masih muda, valuasi startup yang dibangunnya dikabarkan sudah mencapai angka US$9 miliar pada tahun 2014. Ia masuk pada daftar salah satu wanita termuda yang masuk ke dalam jajaran 400 orang terkaya di Amerika Serikat. Selain itu, hingga tahun 2014, Holmes sudah memegang 18 hak paten Amerika Serikat dan 66 hak paten di luar Amerika Serikat.
Walau hingga kini Theranos masih terus membantah seluruh tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Namun, reputasi Theranos terus turun hingga mengakibatkan valuasi Theranos anjlok dari angka US$ 9 miliar ke angka US$800 juta.
Hal tersebut membuat saham yang dimiliki oleh Holmes di Theranos menjadi tak bernilai dan membuatnya harus terdepak dari daftar pengusaha wanita terkaya di Amerika Serikat yang dirilis Forbes.
Dalam sebuah surat di situs web perusahaan, Holmes mengatakan penutupan fasilitas medis akan mempengaruhi 340 karyawan, atau sekitar 40 persen dari total angkatan kerja.
"Setelah menghabiskan waktu selama berbulan-bulan untuk menilai kekuatan dan mengatasi kelemahan kami, kami telah mengubah struktur perusahaan yang selaras dengan nilai-nilai inti dan misi kami," ujar Holmes, pendiri sekaligus CEO dari Theranos, seperti dikutip dari laman BBC di Jakarta, Jumat (7/10/2016).
"Kami akan kembali berfokus pada platform minilab kami (produk tes darah portabel). Tujuan utama kami adalah untuk mengkomersilkan miniatur, laboratorium otomatis yang mampu melakukan pengujian sampel volume kecil, dengan penekanan pada populasi pasien yang rentan, termasuk onkologi, pediatri dan perawatan intensif".
Theranos kini telah menjalani sanksi dari CMS, namun telah menghadapi investigasi lainnya oleh badan-badan seperti Securities and Exchange Commission dan Food and Drug Administration.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Cahyo Prayogo
Tag Terkait: