Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Harga saham PT Sinergi Inti Andalan Prima Tbk (INET) terlihat ditutup ambruk hingga 23,38% atau turun 180 poin ke posisi Rp590 per saham setelah penyesuaian harga oleh Bursa Efek Indonesia (BEI). Pada penutupan perdagangan terakhir sebelum penyesuaian, Jumat (2/1/2026), saham INET masih berada di level Rp770 per saham, namun kemudian disesuaikan menjadi Rp472 per saham.
Penurunan tajam tersebut bukan disebabkan oleh aksi jual besar-besaran investor di pasar, melainkan karena penyesuaian harga teoretis seiring pelaksanaan aksi korporasi Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD). Penyesuaian ini dilakukan agar harga saham mencerminkan nilai wajar setelah jumlah saham beredar bertambah.
BEI menjelaskan, INET melakukan HMETD dengan rasio 3:4. Artinya, setiap pemegang tiga saham lama berhak memperoleh empat HMETD untuk membeli empat saham baru dengan harga Rp250 per saham.
Baca Juga: Ada Proyek Kabel Laut, INET Targetkan Pendapatan Tumbuh Dua Kali Lipat di 2026
“Harga saham INET pada saat akhir cum di Pasar Reguler tanggal 2 Januari 2026 tercatat pada harga Rp770,” tulis BEI dalam pengumuman resmi, Jakarta, Senin (2/1/2026).
Berdasarkan ketentuan tersebut, BEI menghitung ulang harga saham INET dengan menggabungkan harga saham lama dan harga saham baru hasil HMETD. Dari perhitungan itu, harga teoretis saham INET ditetapkan sebesar Rp472,857 per saham dan kemudian dibulatkan sesuai fraksi harga menjadi Rp472 per saham.
Harga teoretis ini digunakan sebagai acuan perdagangan serta dasar penghitungan indeks saham di BEI. Penyesuaian harga mulai berlaku di sistem perdagangan JATS untuk Pasar Reguler dan Pasar Negosiasi pada 5 Januari 2026.
Baca Juga: INET Bangkit Setelah Suspensi, Valuasi Diprediksi Naik
Selain itu, BEI juga menetapkan harga dasar baru saham INET untuk keperluan penghitungan Indeks Harga Saham Individual. Harga dasar baru tersebut ditetapkan sebesar 61,912, disesuaikan dari harga sebelumnya yang mengacu pada harga Rp770 per saham.
Aksi HMETD ini merupakan bagian dari penambahan modal perseroan melalui penerbitan saham baru. Dalam kondisi seperti ini, harga saham biasanya turun secara persentase karena jumlah saham bertambah, sehingga nilai per saham menyesuaikan. Dengan demikian, turunnya harga saham INET tidak sepenuhnya mencerminkan penurunan nilai perusahaan, melainkan akibat penyesuaian teknis yang lazim terjadi setelah aksi korporasi.
Jika berdasarkan harga teoritis, harga saham INET malah menyentuh auto reject atas (ARA) karena melesat 25% atau 118 poin ke posisi Rp590 per saham.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Annisa Nurfitri
Editor: Annisa Nurfitri