Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

TBS Energi (TOBA) Rugi Rp2,7 Triliun di 2025, Ini Biang Keroknya

TBS Energi (TOBA) Rugi Rp2,7 Triliun di 2025, Ini Biang Keroknya Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA) menutup tahun buku 2025 dengan catatan penting dalam proses transformasi bisnisnya menuju sektor energi dan layanan rendah karbon. Di tengah perubahan strategi tersebut, Perseroan membukukan rugi bersih sebesar USD162 juta atau sekitar Rp2,7 triliun (estimasi kurs Rp16.894 per USD). 

Kerugian tersebut dipengaruhi dua faktor utama, yakni penurunan harga batu bara global sepanjang 2025 serta kerugian non-kas dan tidak berulang sebesar USD97 juta yang timbul dari proses divestasi aset Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Langkah divestasi ini merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk mengurangi ketergantungan pada bisnis berbasis karbon.

Meski demikian, kinerja operasional perusahaan masih menunjukkan ketahanan. TOBA berhasil mencatatkan EBITDA disesuaikan positif sebesar USD47,2 juta, yang mencerminkan fundamental operasional tetap terjaga meskipun pasar komoditas sedang menghadapi tekanan.

Transformasi bisnis juga mulai terlihat dari perubahan komposisi pendapatan perusahaan. Sepanjang 2025, segmen pengelolaan limbah memberikan kontribusi USD155,4 juta, setara dengan 41% dari total pendapatan Perseroan.

Baca Juga: Emiten Sawit (TLDN) Panen Laba Rp1,1 Triliun di 2025, Melesat 34%

Sementara itu, segmen pertambangan dan perdagangan batu bara masih menjadi kontributor terbesar dengan pendapatan USD194,6 juta atau sekitar 51% dari total pendapatan.

Namun, porsi ini mengalami penurunan tajam dibandingkan 81% pada periode yang sama tahun sebelumnya, seiring strategi perusahaan untuk secara bertahap mengurangi eksposur terhadap bisnis batu bara.

Perubahan komposisi ini menunjukkan bahwa portofolio bisnis TOBA kini semakin terdiversifikasi, sehingga ketergantungan terhadap volatilitas harga batu bara global juga mulai berkurang.

Sepanjang tahun lalu, perusahaan juga melakukan penataan ulang portofolio bisnis secara menyeluruh melalui langkah strategic repositioning.

Strategi ini dirancang untuk memperkuat struktur keuangan sekaligus membangun model bisnis yang lebih tangguh dalam jangka panjang.

Langkah tersebut dilakukan secara terukur untuk meningkatkan kualitas neraca perusahaan dan mengarahkan portofolio menuju sektor yang memiliki potensi pertumbuhan pendapatan lebih stabil serta valuasi yang lebih menarik di masa depan.

“Keputusan penyesuaian struktural diambil dengan mempertimbangkan kepentingan jangka panjang, guna mengakselerasi pertumbuhan pada tiga pilar bisnis masa depan Perseroan, pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik, yang merupakan layanan esensial dengan potensi pertumbuhan yang kuat di Indonesia dan mancanegara," kata Direktur TBS, Juli Oktarina.

Baca Juga: Penjualan Ultrajaya (ULTJ) Tembus Rp8,76 Triliun, Laba Naik 19% di 2025

Menurut Juli, strategi diversifikasi ini menjadi semakin relevan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang mulai memberi tekanan pada pasar energi dunia.

“Strategi bisnis kami saat ini memberikan fleksibilitas bagi Perseroan untuk tetap tumbuh, di mana sektor pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik justru menjadi peluang krusial bagi ketahanan energi nasional. Melalui inovasi seperti skema rent-to-own pada ekosistem motor listrik electrum, TBS tidak hanya memitigasi dampak fluktuasi harga minyak bagi para pekerja sektor informal, tetapi juga memperkokoh fondasi bisnis hijau untuk memastikan keberlanjutan ekonomi jangka panjang," ujar Juli.

Dengan fundamental operasional yang tetap solid, EBITDA Disesuaikan yang positif, serta arah ekspansi regional yang semakin jelas, manajemen optimistis strategi transformasi tersebut dapat menciptakan nilai tambah berkelanjutan bagi para pemangku kepentingan.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri