Kredit Foto: Reuters
Israel menyatakan bahwa pihaknya tidak akan diam terhadap pengankatan dari Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei. Menurut Tel Aviv, ia merupakan ancaman terhadap perdamaian di Timur Tengah.
Duta Besar Israel untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa Danny Danon menyatakan bahwa sosok tersebut memiliki ideologi yang sama dengan kepemimpinan sebelumnya dan pihaknya siap menargetkan siapa pun yang mempromosikan kebijakan radikal terhadap negaranya.
Baca Juga: Amerika Serikat Minta Rusia Tak Ikut Campur Soal Perang Iran
“Pergantian orang di posisi tertinggi tidak mengubah rezim,” kata Danon, dikutip dari Reuters.
Mojtaba Khamenei dinilai tetap membawa ideologi yang sama dengan pemerintahan sebelumnya yang dianggap bermusuhan terhadap Israel.
“Pemimpin baru ini, sayangnya, membawa ideologi yang sama dan gagasan radikal yang sama. Siapa pun yang mempromosikan ide-ide radikal tersebut terhadap kami akan kami targetkan dan kami temukan,” ujarnya.
Danon juga menyerukan agar masyarakat melakukan revolusi di Iran. Ia mengatakan bahwa pihaknya akan berupaya menciptakan kondisi yang memungkinkan mereka memilih pemimpin baru.
“Rakyat Iran harus bangkit dan memilih pemimpin berikutnya. Kami akan menciptakan kondisi untuk itu, dan itulah yang sedang kami lakukan sekarang,” kata Danon.
Adapun Iran menunjukkan dukungan kuat terhadap pemimpin tertinggi baru mereka, Mojtaba Khamenei. Media setempat melaporkan massa dalam jumlah besar yang berkumpul dalam berbagai wilayah dan kota untuk memberikan dukungan ke Mojtaba.
Mojtaba dikenal sebagai ulama garis keras yang memiliki hubungan dekat dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC). Hal ini membuka kemungkinan pemerintahan yang baru akan memperketat kontrol domestik hingga memperluas peran militer dari IRGC.
Peran Mojtaba dalam politik telah lama menjadi kontroversi, terutama karena dianggap mencerminkan praktik politik dinasti yang ditolak dalam ideologi resmi dari Iran.
Pemerintah Amerika Serikat pernah menjatuhkan sanksi terhadap Mojtaba di 2019. Washington menuduhnya menjalankan fungsi resmi pemimpin tertinggi meski tidak pernah dipilih atau ditunjuk secara formal dalam struktur pemerintahan.
Pemilihan Mojtaba dinilai merupakan upaya mengirim pesan kuat bahwa kepemimpinan negara tersebut tidak melihat ruang kompromi setelah serangan dari Israel dan AS.
Mojtaba sendiri menjadi pemimpin menggantikan ayahnya Ali Khamenei. Ali diketahui tewas akibat serangan yang dilakukan oleh Israel dan AS. Kematiannya sempat memicu perayaan dalam sebagian kalangan masyarakat dari Iran.
Baca Juga: Soal Potensi Amerika Serikat Kirim Ground Force ke Iran, Begini Kata Trump
Namun tak ada perubahan berarti dalam sistem pemerintahan dari Iran. Sejak serangan militer terhadap dimulai, hampir tidak terlihat aktivitas protes di dalam negeri. Sejumlah aktivis disebut memilih menahan diri karena khawatir melakukan aksi di tengah kondisi negara yang sedang menghadapi serangan militer.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: