Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Kemenperin Dorong Peran Generasi Muda Perkuat IKM Alas Kaki

        Kemenperin Dorong Peran Generasi Muda Perkuat IKM Alas Kaki Kredit Foto: Kemenperin
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Reni Yanita, mendorong peran generasi muda dalam memperkuat daya saing pelaku industri kecil dan menengah (IKM) sentra industri alas kaki.

        Hal tersebut disampaikan Reni berdasarkan hasil kunjungannya ke sentra IKM alas kaki di Ciomas, Kabupaten Bogor pada September 2025. Dalam kesempatan tersebut diketahui bahwa perubahan perilaku konsumen pascapandemi Covid-19 turut memengaruhi kinerja usaha di sentra tersebut, juga tentang regenerasi perajin.

        Baca Juga: Bursa Eropa Catatkan Rekor Tertinggi Saat Awali 2026

        “Sebagian besar perajin di sentra IKM alas kaki Ciomas merupakan generasi senior yang belum sepenuhnya memiliki pengetahuan dan keterampilan baru. Karena itu, dibutuhkan peran generasi muda yang lebih adaptif terhadap dinamika pasar dan perkembangan teknologi,” ungkap Reni, dikutip dari siaran pers Kemenperin, Senin (5/1).

        Padahal, industri alas kaki memiliki potensi besar untuk terus tumbuh dan berkontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional. Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Kemenperin menunjukkan bahwa industri alas kaki bersama industri kulit tumbuh sebesar 8,31 persen (year on year) pada triwulan II tahun 2025, serta tumbuh 0,72 persen (quarter to quarter) pada triwulan III-2025. Nilai investasi industri alas kaki juga tercatat mencapai lebih dari Rp18 triliun sepanjang Januari–September 2025.

        “Kinerja ekspor industri alas kaki Indonesia juga menunjukkan tren positif, dengan pertumbuhan 11,89 persen pada periode Januari hingga Agustus 2025, serta menempatkan Indonesia di peringkat keenam dunia sebagai negara eksportir alas kaki,” sebut Reni.

        Menurutnya, capaian tersebut tidak terlepas dari peran sentra IKM alas kaki yang menaungi jumlah pelaku usaha cukup besar. Namun demikian, masih diperlukan berbagai upaya penguatan agar sentra IKM dapat beroperasi secara optimal dan berkelanjutan.

        Sebagai langkah konkret, Ditjen IKMA melalui kolaborasi Direktorat IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan (IKM KSK), Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI), serta Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Bogor, melaksanakan serangkaian program peningkatan daya saing bagi perajin sentra IKM alas kaki Ciomas.

        Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan menyampaikan, sepanjang akhir tahun 2025 telah dilaksanakan tiga kegiatan pembinaan utama, yakni peningkatan literasi digital, bimbingan teknis, serta pendampingan oleh mentor dari perguruan tinggi. Program ini diikuti oleh 14 perajin perwakilan sentra IKM alas kaki Ciomas.

        “Pembinaan ini bertujuan agar perajin semakin familiar dengan pemasaran digital, memiliki pemahaman mengenai desain dan pola alas kaki terkini untuk mendorong inovasi produk, serta mampu mengelola usaha secara lebih efisien melalui pendampingan mentor,” ujar Budi.

        Rangkaian pembinaan diawali dengan kegiatan Penumbuhan dan Pengembangan Wirausaha Baru IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan di Jawa Barat pada 12 Desember 2025. Kegiatan tersebut diikuti oleh 14 perajin sentra IKM alas kaki Ciomas serta 56 IKM kimia, sandang, dan kerajinan lainnya dari Kota dan Kabupaten Bogor.

        Materi yang diberikan meliputi strategi pemasaran digital, strategi berjualan di lokapasar, serta praktik fotografi produk, dengan narasumber dari Universitas Prasetiya Mulya, Shopee Indonesia, dan Universitas Ciputra Jakarta.

        Selanjutnya, para perajin mengikuti bimbingan teknis desain dan pola alas kaki yang diselenggarakan pada 15–17 Desember 2025 dengan narasumber dari BPIPI. Program pembinaan kemudian dilanjutkan dengan pendampingan oleh mentor dari Universitas Prasetiya Mulya hingga tahun 2026 bagi peserta terpilih.

        “Kami berharap hasil pembinaan ini dapat menjadi modal dasar bagi para perajin, tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga memperkuat kondisi internal usaha, memahami kebutuhan bisnis secara lebih tepat, serta menentukan langkah strategis untuk mengembangkan usaha dan menghadapi dinamika pasar,” jelas Budi.

        Ke depan, Budi mendorong para perajin untuk memanfaatkan berbagai dukungan pemerintah, mulai dari fasilitas pembiayaan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Kredit Industri Padat Karya (KIPK), layanan konsultasi teknis dengan BPIPI, hingga program Restrukturisasi Mesin dan Peralatan bagi IKM untuk peremajaan mesin dan peningkatan kapasitas produksi.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Ulya Hajar Dzakiah Yahya
        Editor: Ulya Hajar Dzakiah Yahya

        Bagikan Artikel: