Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Rio Tinto Jajaki Merger dengan Glencore, Bakal Ciptakan Raksasa Tambang Dunia

        Rio Tinto Jajaki Merger dengan Glencore, Bakal Ciptakan Raksasa Tambang Dunia Kredit Foto: ITMG
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Rio Tinto tengah menjajaki rencana merger dengan Glencore yang berpotensi melahirkan pemimpin baru industri pertambangan global. Langkah ini diperkirakan akan memicu konsolidasi lanjutan di sektor tambang yang haus tembaga serta memberi tekanan pada BHP, yang saat ini merupakan perusahaan tambang terbesar di dunia.

        Berdasarkan laporan Reuters, pembicaraan antara Rio Tinto dan Glencore masih berada pada tahap awal. Rio Tinto memiliki waktu hingga 5 Februari untuk menyampaikan penawaran resmi, meski tenggat tersebut masih dapat diperpanjang. Kedua perusahaan sebelumnya juga pernah melakukan pembicaraan serupa, namun tidak berujung pada kesepakatan.

        Jika transaksi ini berhasil dan bergantung pada valuasi akhir, merger Rio Tinto dan Glencore berpotensi masuk dalam daftar 10 transaksi merger dan akuisisi (M&A) terbesar sepanjang sejarah. Kesepakatan ini mencerminkan meningkatnya minat terhadap skala besar, yang menurut kalangan perbankan dapat mendorong terjadinya mega-deal pada 2026.

        Baca Juga: Glencore Buang 204,97 Juta Saham NCKL, Raup Dana Rp281 Miliar

        “Ini merupakan contoh lain bahwa sektor pertambangan tengah mengalami konsolidasi dan perusahaan-perusahaan besar terdorong melakukan aksi korporasi untuk menciptakan nilai,” kata CEO firma penasihat MKI Global, Mark Kelly, mengutip Reuters, Jakarta, Senin (12/1/2026). 

        Langkah Rio Tinto ini mengikuti tren konsolidasi di sektor tambang. Pada September lalu, Anglo American mengumumkan rencana merger dengan Teck Resources asal Kanada untuk membentuk perusahaan global berbasis tembaga. Transaksi tersebut hingga kini masih menunggu persetujuan regulator.

        Sejumlah analis, investor, dan bankir menilai BHP berpotensi menjadi pengganggu utama dalam pembicaraan Rio Tinto dan Glencore. Dengan kapitalisasi pasar sekitar US$161 miliar, BHP dinilai memiliki kapasitas untuk mengajukan penawaran tandingan terhadap Glencore. Jika terjadi, transaksi tersebut dapat menciptakan perusahaan dengan valuasi mendekati US$207 miliar.

        Salah satu sumber perbankan menyebutkan, jika BHP memilih tidak terlibat dalam pembicaraan saat ini, perusahaan tersebut kemungkinan akan mempertimbangkan transaksi lain guna mempertahankan posisinya sebagai pemimpin industri. Menurut sumber tersebut, portofolio Glencore yang sangat beragam dinilai kurang sejalan dengan strategi BHP dan berpotensi memerlukan pelepasan aset, terutama untuk memenuhi persyaratan regulator terkait persaingan usaha.

        “Pihak yang paling mungkin masuk sebagai pengganggu dalam kesepakatan ini adalah BHP. Dengan kesepakatan yang digerakkan oleh tembaga, kami menilai BHP dapat mengakuisisi Glencore melalui penawaran tandingan, mempertahankan aset tembaga, dan melepas aset lainnya,” ujar analis Berenberg, Richard Hatch.

        Manajer Portofolio Sumber Daya Alam di Ninety One, George Cheveley, yang merupakan pemegang saham Glencore, menilai BHP mungkin merasa perlu turun tangan, meski langkah tersebut berpotensi sulit secara internal. Menurutnya, hal ini juga dipengaruhi oleh kegagalan berulang BHP dalam upayanya mengakuisisi Anglo American.

        Baca Juga: Jual Saham NCKL, Glencore Kantongi Cuan Rp276,9 Miliar

        Pada 2024, BHP sempat melakukan pendekatan selama berbulan-bulan untuk mengakuisisi Anglo American guna memperkuat portofolio tembaganya, sebelum kembali menghidupkan upaya tersebut secara singkat pada November tahun lalu. Tekanan terhadap BHP kian meningkat seiring rencana penunjukan CEO baru, yang diharapkan mampu membawa perubahan strategis.

        Selain dorongan skala untuk meningkatkan margin dan efisiensi biaya, tembaga menjadi faktor utama di balik meningkatnya konsolidasi sektor tambang. Permintaan terhadap logam ini terus meningkat seiring adopsi kecerdasan buatan dan transisi global menuju energi bersih, yang menjadikan tembaga sebagai logam paling efisien untuk menghantarkan listrik.

        “Inti dari transaksi ini, sama seperti merger Anglo–Teck, adalah tembaga. Kami tahu tembaga sangat menarik dan itulah yang ingin diakses para pembeli,” kata Kelly.

        Namun, sebagian analis menilai BHP tidak harus mengambil langkah agresif. Analis RBC, Kaan Peker, menyebut profil pertumbuhan tembaga BHP dinilai lebih bersih dibandingkan perusahaan hasil merger Rio Tinto dan Glencore, sehingga BHP dinilai tidak harus melakukan aksi korporasi dalam waktu dekat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Annisa Nurfitri

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: