Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Bursa Asia Mixed, Saham Jepang Meroket Gegara Takaichi

        Bursa Asia Mixed, Saham Jepang Meroket Gegara Takaichi Kredit Foto: Reuters/Kim Kyung-Hoon
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Bursa Asia ditutup mixed pada perdagangan di Selasa (13/1). Investor tetap hati-hati menyusulketidakpastian geopolitikdan perkembangan politik serta kebijakan di Amerika Serikat dan Jepang.

        Dilansir Rabu (14/1), berikut ini adalah catatan pergerakan sejumlah indeks utama dari Bursa Asia. Bursa Jepang catatkan kenaikan dalam perdagangan kali ini:

        • Hang Seng (Hong Kong): Naik 0,90% ke 26.848,47
        • CSI 300 (China): Turun 0,60% ke 4.761,03
        • Shanghai Composite (China): Turun 0,64% ke 4.138,76
        • Nikkei 225 (Jepang): Naik 3,10% ke 53.549,16
        • Topix (Jepang): Naik 2,41% ke 3.598,89
        • Kospi (Korea Selatan): Naik 1,47% ke 4.692,64
        • Kosdaq (Korea Selatan): Turun 0,09% ke 948,98

        Ketidakstabilan Iran akibat gelombang protes anti-pemerintah memberikan tekanan pada pasar karena risiko gangguan pasokan minyak dan premi risiko geopolitik yang meningkat. Hal itu mendorong harga komoditas energi lebih tinggi menurut laporan pasar global.

        Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi dikabarkan mempertimbangkan kemungkinan menggelar pemilihan umum dini secepat Februari. Hal itu diperkirakan dapat memperkuat mandatnya untuk menerapkan kebijakan fiskal ekspansif. Spekulasi ini diyakini dapat menekan nilai yen dan mendongkrak indeks saham dari Tokyo.

        Investor dalam kawasan juga mencermati pengumuman kebijakan dari pemerintahan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.

        Trump baru-baru ini mengancam akan menerapkan tarif tambahan dua puluh lima persen terhadap negara-negara yang tetap berdagang dengan Iran. Kebijakan tarif tersebut menambah risiko dalam penilaian pasar serta pertanyaan tentang implikasi terhadap perdagangan global dan rantai pasok.

        Selain itu, ia juga membuka penyelidikan pidana terhadap Ketua Federal Reserve Jerome Powel. Hal itu  memicu kekhawatiran soal independensi bank sentral yang telah memengaruhi aktivitas pasar global dan meningkatkan permintaan terhadap aset safe-haven seperti emas.

        Powell di sisi lain mendapatkan dukungan dari beragam pengamat ekonomi dan elite bank sentral lainnya. Ia juga menegaskan bahwa pihaknya akan tetap menjalankan kebijakan berdasarkan data ekonomi.

        Baca Juga: Djoni Tambah Portofolio, Ambil 5,09% Saham FOLK

        Pergerakan selanjutnya diperkirakan akan dipengaruhi oleh data ekonomi mendatang, keputusan suku bunga serta setiap klarifikasi lebih lanjut atas kebijakan tarif dan respons negara-negara terhadap ketegangan geopolitik saat ini.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Tag Terkait:

        Bagikan Artikel: