Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Di Hadapan DPR, PT Vale Ungkap Progres 3 Megaproyek Nikel Rp147,5 Triliun

        Di Hadapan DPR, PT Vale Ungkap Progres 3 Megaproyek Nikel Rp147,5 Triliun Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        PT Vale Indonesia Tbk (INCO) memaparkan perkembangan terbaru tiga megaproyek Indonesia Growth Project (IGP) dengan total nilai investasi mencapai US$8,7 miliar atau setara Rp147,5 triliun (kurs Rp16.953 per dolar AS). Proyek yang berlokasi di Pomalaa, Morowali, dan Sorowako ini menjadi bagian dari pemenuhan kewajiban Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK) sekaligus upaya memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok nikel global.

        Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto menjelaskan, proyek High Pressure Acid Leaching(HPAL) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, menjadi salah satu yang paling progresif. Proyek senilai US$4,5 miliar tersebut dikembangkan bersama Huayou (Tiongkok) dan Ford Motor Company (Amerika Serikat).

        Menurut Bernardus, progres konstruksi tambang Pomalaa telah mencapai 60%, sementara pembangunan pabrik HPAL mencapai 50%.

        “Proyeksi mechanical completion itu akan dilakukan pada Agustus 2026. Artinya, pada Agustus 2026 itu, bijih untuk masukan HPAL sudah harus siap,” ujar Bernardus dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).

        Ia menekankan bahwa Ford memberikan perhatian besar terhadap aspek keberlanjutan. Dalam kesepakatan kerja sama, pabrik HPAL Pomalaa hanya diperbolehkan menerima pasokan bijih nikel dari pertambangan PT Vale.

        “Ford sudah mengases praktik sustainability PT Vale dan menuangkannya dalam kebijakan bahwa pabrik HPAL itu hanya boleh menerima feed bijih dari PT Vale,” tegasnya.

        Untuk mendukung pabrik berkapasitas 120 ribu ton per tahun (ktpa) mixed hydroxide precipitate (MHP), PT Vale membutuhkan pasokan sekitar 21 juta ton limonit dan 7 juta ton saprolit per tahun. Hingga kini, dua unit autoclavetelah tiba di lokasi, sementara lima unit lainnya dijadwalkan menyusul.

        “Artinya, pada Agustus 2026, bijih untuk masukan HPAL sudah harus siap. Jadi, kami harus memulai kegiatan penambangan tahun ini. Kemudian, pada Agustus itu paling tidak sudah tersedia stockpile untuk kebutuhan tiga bulan,” imbuh Bernardus.

        Untuk proyek IGP Morowali, PT Vale menggandeng GEM (Tiongkok) dan EcoPro (Korea Selatan) dengan nilai investasi sekitar US$2 miliar. Aktivitas penambangan di Bahodopi telah dimulai sejak kuartal I 2025, dengan progres konstruksi tambang fase pertama mencapai 99%.

        Sementara itu, pembangunan pabrik HPAL Morowali saat ini mencatatkan progres 22% dan ditargetkan mulai beroperasi pada periode 2026–2027. Pabrik ini dirancang memproduksi 66.000 ton MHP per tahun dan ditargetkan mencapai mechanical completion pada kuartal IV 2026.

        “Kebutuhan bijih untuk pabrik HPAL di Bahodopi sekitar 5,5 juta ton saprolit dan 10,4 juta ton limonit. Sama seperti sebelumnya, sebelum pabrik beroperasi, kami harus menyiapkan paling tidak stockpile untuk tiga bulan kebutuhan pabrik,” jelas Bernardus.

        Berbeda dengan Pomalaa, aktivitas penambangan di Morowali telah berjalan sejak Juli 2025 dan telah melakukan penjualan bijih nikel sambil menunggu penyelesaian pembangunan pabrik HPAL.

        Adapun untuk IGP Sorowako, PT Vale menggandeng Huayou dengan nilai investasi sekitar US$2,2 miliar. Bernardus mengakui, progres proyek di Sorowako menjadi yang paling lambat dibandingkan dua proyek lainnya.

        Progres konstruksi tambang Sorowako tercatat 37%, sementara pembangunan pabrik HPAL baru mencapai 17%. Proyek ini akan menggunakan sistem pipa untuk mengalirkan limonit dari tambang di Sorowako menuju pabrik HPAL di Malili, dengan panjang jalur pipa sekitar 60 kilometer.

        Saat ini, tiga unit autoclave untuk proyek Sorowako masih dalam tahap fabrikasi di Tiongkok dan diperkirakan tiba di lokasi pada pertengahan 2026.

        “Limonit dari tambang Sorowako akan disuplai ke Malili melalui pipa. Targetnya, pabrik diharapkan selesai pada 2027,” kata Bernardus.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: