Transformasi Data Pascamerger Dongkrak Laba BSI Hingga 22,8 Persen pada 2024
Kredit Foto: Cloudera
Merger tiga bank syariah milik negara yang melahirkan Bank Syariah Indonesia (BSI) pada Februari 2021 lalu, bukan hanya soal penggabungan aset dan jaringan. Tantangan paling krusial justru terletak pada penyatuan data dari sistem yang berbeda-beda agar organisasi dapat mengikuti perkembangan data dan demand nasabah.
Sebagai bank hasil konsolidasi, BSI menghadapi hambatan umum pada organisasi yang baru merger, yaitu duplikasi data dan redundansi sistem. Tanpa pengelolaan yang tepat, kondisi ini berpotensi menciptakan silo data, memperlambat pengambilan keputusan, dan menghambat efisiensi. Untuk menjawab tantangan tersebut, BSI membangun single source of truth, satu sumber data terpusat untuk BSI dan operasionalnya.
Melalui pemanfaatan platform Cloudera, BSI berhasil menyatukan data pascamerger sekaligus memperkuat fondasi pengambilan keputusan berbasis data. Dengan membangun satu fondasi data terintegrasi, BSI memastikan seluruh unit kerja mengacu pada informasi yang konsisten dan dapat dipercaya. Dampaknya terlihat nyata. Pada 2024, BSI mencatatkan pertumbuhan laba bersih (net profit) sebesar 22,8 persen, mencerminkan kontribusi langsung transformasi data terhadap kinerja bisnis.
“Kemitraan kami dengan Cloudera menjadi sangat strategis dalam perjalanan transformasi ini,” ujar Andy Nugroho, SVP Data & Decision Management BSI. “Kami memulai perjalanan data dengan infrastruktur yang relatif sederhana, dan kini berhasil membangun fondasi data yang mampu mendukung kebutuhan analitik skala besar dengan Cloudera.”
Menyederhanakan Alur Informasi Keuangan yang Penting
Sebagai institusi keuangan dengan beragam sumber data akibat proses merger, BSI memanfaatkan platform Cloudera—didukung oleh Cloudera Professional Services untuk mempercepat pengadopsian—untuk menyatukan legacy data. Langkah ini memungkinkan bank mengambil keputusan bisnis yang lebih tepat berdasarkan informasi yang akurat dan konsisten.
Selain itu, BSI menggunakan kemampuan analitik data yang kini telah terintegrasi untuk berbagai kebutuhan strategis, seperti deteksi penipuan (fraud detection) dan personalisasi layanan bagi nasabah. Pendekatan ini membantu BSI tetap selangkah di depan dalam persaingan, menarik nasabah baru, serta mempertahankan nasabah yang sudah ada.
Dengan kemampuan analitik yang semakin matang berkat platform Cloudera, BSI mengembangkan laporan dan dashboard otomatis untuk memantau data nasabah secara real-time serta mengidentifikasi peluang pertumbuhan dan strategi bisnis yang paling relevan. Proses yang sebelumnya memakan waktu kini menjadi lebih ringkas, mengurangi ketergantungan pada laporan manual, serta meminimalkan potensi kesalahan.
Sebagai bank syariah terbesar di Indonesia, dengan pendapatan tahunan lebih dari US$1,2 miliar, BSI menargetkan peran yang lebih luas, termasuk di tingkat global. Ke depan, BSI berkomitmen untuk terus berada di jalur menuju visi menjadi bank syariah terdepan di dunia dengan memanfaatkan teknologi terbaru sebagai motor inovasi.
Bank ini kini telah memiliki fondasi data yang tepercaya, yang akan menjadi modal utama dalam penerapan kecerdasan buatan (AI) pada tahun-tahun mendatang. BSI pun menargetkan untuk tetap menjadi salah satu bank syariah paling maju secara teknologi di masa depan.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Sufri Yuliardi