Kredit Foto: Annisa Nurfitri
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih mencetak rapor merah pada penutupan sesi pertama perdagangan Rabu (21/1) jelang pengumuman bi rate. Merujuk data RTI, IHSG anjlok 113,21 poin atau 1,24% ke level 9.021,48.
Pergerakan saham pada siang hari ini didominasi tren negatif. Sebanyak 575 saham ambruk, 143 saham menguat dan 83 saham lainnya stagnan.
Hingga pertengahan hari ini, IHSG sudah membukukan nilai transaksi Rp20,9 triliun. Hal itu berkat adanya perdagangan 38,72 miliar lembar saham dengan frekuensi 2.564.253 kali.
Baca Juga: IHSG Diprediksi akan Menguat Terbatas, Empat Saham Bisa Jadi Pilihan
Ditinjau dari indeks LQ45, saham PT United Tractors Tbk (UNTR) menjadi top losers dengan koreksi -14,93% ke level Rp27.200. Diikuti PT Astra International Tbk (ASII) yang merosot -11,34% ke Rp6.450 dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) yang melemah -4,89% ke Rp875.
Di posisi top gainers ada PT Dian Swastika Sentosa Tbk (DSSA) yang melesat 6% ke Rp108.125, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang menguat 3,74% ke Rp3.330 dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) yang menanjak 3,40% menjadi Rp4.260.
Baca Juga: Saham UNTR dan ASII Kompak Ambruk Usai Izin Tambang Martabe Dicabut Prabowo
Sementara itu, para ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI Januari 2026 yang dijadwalkan berlangsung Rabu siang ini. Proyeksi ini sejalan dengan masih berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Meski terdapat arus masuk modal portofolio pasca penurunan suku bunga Amerika Serikat, Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI, Teuku Riefky, menilai tekanan eksternal masih cukup dominan. Penguatan dolar AS serta sentimen risiko global dinilai membatasi ruang penyesuaian kebijakan suku bunga domestik.
“Mempertahankan suku bunga kebijakan pada level 4,75 persen akan membantu menjaga kecukupan diferensial suku bunga, memperkuat kepercayaan pasar, dan membatasi volatilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang masih berlanjut,” kata Riefky dalam laporan bulanan LPEM FEB UI, dikutip dari Antara.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri
Tag Terkait: