- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Periklindo Ungkap Sasis Mobil Listrik Pakai 70% Baja Khusus, Lebih Kokoh dari Mobil BBM
Ilustrasi: Wafiyyah Amalyris K
Wakil Ketua Bidang Pengembangan dan Penelitian Periklindo, Prabowo Kartoleksono menjelaskan bahwa mobil listrik (electric vehicle/EV) memiliki struktur rangka yang jauh lebih aman dan kokoh dibandingkan mobil berbahan bakar minyak (BBM) konvensional.
Rahasianya terletak pada desain skateboard platform yang menempatkan baterai dan komponen berat di bagian paling bawah mobil.
Prabowo memaparkan posisi baterai di lantai sasis ini berhasil menurunkan pusat gravitasi mobil hingga 30-50%. Hasilnya, mobil jadi lebih stabil, minim guncangan (body roll), dan jauh lebih aman dari risiko terbalik.
"Efisiensi penyerapan energi benturan pada EV diklaim 20-30% lebih baik karena bagian depan mobil murni dirancang untuk keselamatan, tanpa terhalang blok mesin yang kaku," ujar Prabowo kepada Warta Ekonomi, Rabu (21/1/2026).
Baca Juga: Ngecas Murah, APPKLI Optimistis Kendaraan Listrik Makin Dilirik
Meski bobot mobil listrik lebih berat sekitar 300-500 kg karena baterai, Prabowo memastikan rangkanya sudah diperkuat secara khusus. Produsen menggunakan baja super kuat (Hot Stamping Steel) pada titik tumpu utama yang mampu menahan beban sangat berat.
"Sasis EV dirancang sebagai 'sangkar pelindung' yang sangat kaku. Penggunaan baja kekuatan tinggi (HSS) pada mobil listrik mencapai 60-70%, jauh di atas mobil bensin biasa yang hanya sekitar 30-40%," jelasnya.
Mengenai kekhawatiran masyarakat akan banjir, Prabowo menegaskan bahwa mobil listrik justru lebih tangguh. Dengan sertifikasi minimal IP67, baterai mobil listrik aman meski terendam air sedalam 1 meter selama 30 menit.
"Kalau mobil bensin, air masuk ke mesin sedikit saja bisa kena water hammer yang bikin mesin hancur. Di EV, komponen vitalnya tertutup rapat dan dilindungi lapisan anti-korosi yang tebal," tuturnya.
Untuk menghadapi jalan rusak di Indonesia, bagian bawah baterai sudah dilindungi tameng baja atau aluminium setebal 2-5 mm. Standar keamanannya pun sangat tinggi, yakni harus kuat menahan tekanan hingga 10 ton.
Selain soal teknis, Prabowo menekankan pentingnya transisi ke mobil listrik untuk menekan angka polusi dan penyakit ISPA. Ia menyebutkan bahwa biaya energi mobil listrik 75-80% lebih murah, yakni hanya Rp200-Rp300 per km dibanding mobil bensin yang mencapai Rp1.200-Rp1.500 per km.
"Penggunaan EV secara masif bisa menurunkan risiko penyakit pernapasan secara massal. Ini otomatis akan mengurangi beban BPJS Kesehatan yang mencapai triliunan rupiah tiap tahun akibat polusi udara," pungkas Prabowo.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: