Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Terpangkas 82%, Laba SMBC Indonesia Sisa Rp505,56 Miliar di 2025

Terpangkas 82%, Laba SMBC Indonesia Sisa Rp505,56 Miliar di 2025 Kredit Foto: SMBC Indonesia
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN) atau SMBC Indonesia membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp505,56 miliar sepanjang 2025. Angka ini turun 82,02% dibandingkan laba tahun sebelumnya yang mencapai Rp2,81 triliun.

Meski laba tertekan, kinerja operasional justru menunjukkan pertumbuhan. Pendapatan operasional konsolidasi tercatat Rp18,4 triliun, naik 5,8% secara tahunan (yoy).

Pendapatan bunga bersih juga tumbuh 4,6% yoy, dengan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) tetap terjaga di level 7,0%, di tengah kompetisi suku bunga kredit, kenaikan biaya pendanaan, serta volatilitas pasar yang masih berlangsung.

“Kinerja konsolidasi SMBC Indonesia periode 2025 mencerminkan strategi kami yang berfokus pada fundamental bisnis yang didasari oleh tata kelola yang baik,” ujar Henoch Munandar, Direktur Utama SMBC Indonesia.

Dari sisi intermediasi, penyaluran kredit konsolidasi tumbuh 3,3% yoy menjadi Rp185,4 triliun pada akhir 2025. Pertumbuhan tersebut ditopang segmen korporasi dan komersial yang naik 6,5% yoy, serta realisasi kredit Jenius di luar Digital Micro yang melonjak 11,3% yoy.

Baca Juga: BTPN Syariah (BTPS) Bukukan Laba Rp1,2 Triliun pada 2025, Tumbuh 13%

Realisasi penyaluran kredit konsolidasi sepanjang 2025 juga ditopang oleh struktur pendanaan yang semakin efisien, dengan nilai pendanaan berbasis dana murah (CASA) yang naik 16,7% yoy menjadi Rp53,2, dengan rasio CASA naik ke 40,6%.

Secara keseluruhan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 8,0% yoy menjadi Rp131,0 triliun pada akhir 2025 untuk menopang kebutuhan pembiayaan.

Secara konsolidasi, bank memperkuat pencadangan kerugian penurunan nilai (CKPN), terutama di anak usaha Grup OTO. Langkah ini dinilai sebagai respons bijaksana terhadap dinamika ekonomi 2025 sekaligus bagian dari peran perusahaan induk konglomerasi keuangan (PIKK) dalam menjaga prinsip kehati-hatian dan ketahanan modal.

“Kenaikan CKPN secara konsolidasi merupakan upaya kita sebagai PIKK untuk senantiasa meningkatkan standar penerapan tata kelola perusahaan yang baik, serta menjaga kualitas aset dan ketahanan bank. Dengan demikian, laba bersih konsolidasi SMBC Indonesia yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk yang tercatat sebesar Rp506 miliar untuk tahun 2025,” jelas Henoch.

Baca Juga: OJK Catat Kredit Perbankan Tumbuh 9,96 Persen pada Januari 2026, Tembus Rp 8.577 Triliun

Dari sisi permodalan dan likuiditas, posisi bank tetap kuat. Per 31 Desember 2025, liquidity coverage ratio (LCR) mencapai 229,4% dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 123,0%.

Rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) konsolidasi berada di level 29,3%, lebih tinggi dari rata-rata industri 25,9%, sehingga memberi ruang ekspansi ke depan.

Gross non-performing loan (NPL) ratio konsolidasi tercatat 2,6% pada akhir Desember 2025, membaik dari 2,8% pada akhir September 2025. Capaian ini mencerminkan konsistensi penerapan manajemen risiko yang sehat di tengah tantangan ekonomi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Belinda Safitri
Editor: Belinda Safitri

Bagikan Artikel: