Kredit Foto: Uswah Hasanah
Emiten tambang emas, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) disebut tengah mempersiapkan rencana pencatatan saham (listing) di Hong Kong seiring harga emas global yang menembus level tertinggi baru.
Melansir Bloomberg, sumber yang mengetahui rencana tersebut mengatakan Merdeka Gold Resources telah menunjuk Citic Securities, Morgan Stanley, dan UBS Group untuk menggarap rencana penawaran saham di Hong Kong. Pembahasan masih berlangsung, termasuk terkait ukuran dan waktu pelaksanaan transaksi.
Merdeka Gold Resources merupakan anak usaha Merdeka Copper Gold yang resmi melantai di Bursa Efek Indonesia pada 2025. Hingga kini, perusahaan dan pihak penasihat belum memberikan pernyataan resmi. Merdeka Gold, UBS, dan Citic menolak berkomentar, sementara Morgan Stanley belum merespons permintaan konfirmasi. Media IFR sebelumnya melaporkan rencana pencatatan saham tersebut.
Baca Juga: IHSG Siang Ini Ambruk 1,28% ke 8.876, BRPT, AMMN dan GOTO Top Losers LQ45
Apabila terealisasi, transaksi ini akan menjadi salah satu pencatatan saham yang relatif jarang, karena melibatkan perusahaan non-Tiongkok yang melakukan debut di pasar modal Hong Kong. Bursa Hong Kong Exchanges & Clearing pada 2023 diketahui telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan Bursa Efek Indonesia untuk menjajaki pencatatan lintas negara di kedua pasar.
Merdeka Gold mengoperasikan tambang emas di Sulawesi, Indonesia. Berdasarkan data perusahaan, tambang tersebut memiliki cadangan bijih sekitar 190 juta ton dengan kandungan sekitar 4,8 juta ons emas. Pada sembilan bulan pertama 2025, Merdeka Gold mencatatkan rugi sebesar US$22,3 juta.
Meski demikian, saham Merdeka Gold telah mencatatkan kenaikan lebih dari dua kali lipat sejak debutnya pada September 2025. Lonjakan harga saham tersebut mendorong kapitalisasi pasar perusahaan mencapai sekitar US$5,7 miliar.
Baca Juga: Enam Bulan Disuspensi, 70 Emiten Terancam Delisting Termasuk BUMN Karya
Rencana ekspansi ke pasar Hong Kong muncul di tengah reli harga emas global. Sepanjang 2025, emas mencatatkan kinerja tahunan terkuat sejak 1979, seiring investor mencari aset lindung nilai dan mengurangi eksposur terhadap dolar Amerika Serikat. Kondisi tersebut mendorong perusahaan tambang emas memanfaatkan momentum untuk menghimpun modal guna mendanai pertumbuhan.
Data Bloomberg menunjukkan, aktivitas pencatatan global, penempatan saham, dan transaksi block trade di sektor pertambangan emas berhasil menghimpun dana sebesar US$15 miliar sepanjang 2025, tertinggi sepanjang sejarah.
Di Hong Kong, minat investor terhadap sektor emas tercermin dari pencatatan saham Zijin Gold International asal Tiongkok, yang berhasil menghimpun dana sekitar US$3,7 miliar melalui penawaran umum perdana pada tahun lalu.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: