Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        ‎Tekanan ke The Fed Perbesar Ketidakpastian Pasar, Pemangkasan Suku Bunga AS Diperkirakan Mundur

        ‎Tekanan ke The Fed Perbesar Ketidakpastian Pasar, Pemangkasan Suku Bunga AS Diperkirakan Mundur Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        ‎Tekanan politik terhadap independensi bank sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve/The Fed) dinilai semakin memperbesar ketidakpastian pasar keuangan global, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia. 

        ‎Di tengah kondisi tersebut, peluang pemangkasan suku bunga acuan AS diperkirakan mundur dan tidak akan seagresif ekspektasi sebagian pelaku pasar.

        ‎Praktisi pasar modal, Hans Kwee, mengatakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terus mendorong The Fed untuk menurunkan suku bunga secara cepat guna membuka ruang fiskal bagi pemerintah AS. 

        ‎Penurunan suku bunga dinilai Trump penting untuk menekan beban bunga utang dan memungkinkan refinancing melalui penerbitan obligasi baru.

        ‎“Trump ingin suku bunga segera turun ke kisaran 2 persen atau bahkan lebih rendah agar Amerika bisa melakukan refinancing utang dengan biaya yang jauh lebih murah,” ujar Hans, Jumat (23/1/2026). 

        Baca Juga: Trump Mesti Waspada, Hilangnya Independensi The Fed Bisa Mengancam Ekonomi AS

        ‎Namun, pandangan tersebut tidak sejalan dengan sikap Ketua The Fed Jerome Powell yang menilai pemangkasan suku bunga belum dapat dilakukan selama inflasi belum benar-benar turun ke target 2 persen.

        ‎"Perbedaan pandangan ini memunculkan ketegangan antara pemerintah AS dan bank sentral, sekaligus menimbulkan kekhawatiran pasar terkait independensi The Fed," imbuhnya.

        ‎Hans menegaskan independensi bank sentral menjadi kunci menjaga stabilitas ekonomi. Jika bank sentral berada di bawah tekanan politik, kebijakan moneter berisiko digunakan untuk mendukung kepentingan fiskal jangka pendek, yang pada akhirnya dapat memicu inflasi tinggi dan gelembung aset.

        ‎“Kalau pemerintah terus mendorong pertumbuhan dan bank sentral kehilangan fungsi rem, risikonya adalah overheating ekonomi dan krisis di kemudian hari,” ujarnya.

        ‎Di tengah dinamika tersebut, Hans memproyeksikan pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026 hanya akan terjadi dua kali. Pemotongan pertama diperkirakan baru dilakukan pada Juni, sementara pemangkasan kedua berpotensi terjadi pada akhir tahun, antara November atau Desember.

        Baca Juga: Harga Emas Cetak Rekor Baru, Didorong Geopolitik dan Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed

        ‎Mundurnya jadwal pemangkasan suku bunga tidak terlepas dari masih tingginya inflasi AS yang berada di atas target, salah satunya dipicu oleh kebijakan tarif impor. 

        ‎Beban tarif yang diteruskan ke konsumen membuat tekanan inflasi sulit mereda, sehingga ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter menjadi terbatas.

        ‎Ketidakpastian arah kebijakan The Fed ini terus menjadi faktor utama volatilitas pasar keuangan global. Hans menilai pasar akan tetap sensitif terhadap setiap sinyal politik dan moneter dari Amerika Serikat, terutama menjelang berakhirnya masa jabatan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed pada 2026.

        ‎“Selama ketegangan antara pemerintah AS dan The Fed belum mereda, pasar global, termasuk Indonesia, akan terus bergerak fluktuatif,” ujarnya.

        ‎Hans menambahkan, pelaku pasar perlu mencermati dinamika kebijakan moneter global secara lebih hati-hati, karena ekspektasi penurunan suku bunga yang terlalu agresif berisiko tidak terwujud dalam waktu dekat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Uswah Hasanah
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: