Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Dalam 24 Jam Putin Telepon Trump lalu Pezeshkian, Moskow Mainkan Dua Sisi Sekaligus

Dalam 24 Jam Putin Telepon Trump lalu Pezeshkian, Moskow Mainkan Dua Sisi Sekaligus Kredit Foto: Reuters/Sputnik/Sergey Guneev
Warta Ekonomi, Jakarta -

Dalam kurang dari 24 jam, Vladimir Putin berbicara dengan dua pemimpin yang negaranya sedang terlibat konflik bersenjata di Timur Tengah. Senin (9/3/2026) malam ia menelepon Donald Trump, Selasa (10/3/2026) sore ia menelepon Presiden Iran Masoud Pezeshkian.

Panggilan Putin ke Pezeshkian pada Selasa, 10 Maret, bukan yang pertama dalam sepekan terakhir. Keduanya sudah berbicara pada 6 Maret, tepat setelah Putin menggelar serangkaian pembicaraan dengan para pemimpin negara-negara Teluk.

Kremlin menyatakan dalam panggilan Selasa itu Putin menegaskan dukungannya terhadap deeskalasi konflik secara cepat dan penyelesaian melalui jalur politik. Pezeshkian dari pihaknya menyampaikan terima kasih atas dukungan Rusia, termasuk bantuan kemanusiaan yang disebut telah diberikan kepada Iran.

Detail soal "bantuan kemanusiaan" itu tidak dijelaskan lebih lanjut. Kremlin tidak merinci isinya, Iran pun tidak. Batas antara bantuan kemanusiaan dan bentuk dukungan lainnya kerap kabur, dan Moskow tampaknya tidak berminat memperjelas perbedaan itu.

Melansir Express Tribune, Kementerian Kesehatan Iran menyebut lebih dari 15.000 orang terluka akibat serangan yang berlangsung di wilayahnya.

Angka itu memberi gambaran mengapa bantuan dari Rusia menjadi signifikan bagi Teheran di tengah tekanan terhadap infrastruktur medis yang dilaporkan terdampak berat.

Manuver diplomatik Moskow ini mendapat konfirmasi tak terduga dari Trump sendiri. Dikutip dari Daily Post, saat berbicara dengan wartawan setelah telepon dengan Putin, Trump mengonfirmasi bahwa pemimpin Rusia itu tengah berupaya meredakan situasi.

"Putin sangat ingin membantu," kata Trump.

Utusan Khusus AS Steve Witkoff menambahkan konteks dari pembicaraan Trump-Putin itu. Melansir CNBC, Witkoff menyatakan pihak Rusia mengklaim tidak berbagi intelijen dengan Iran soal posisi aset militer AS.

"Dalam panggilan dengan presiden, pihak Rusia menyatakan bahwa mereka tidak melakukan berbagi informasi," kata Witkoff, meski ia mengakui tidak bisa memverifikasi pernyataan itu secara independen.

Klaim Kremlin soal peran sebagai pendorong perdamaian berbenturan dengan laporan lain yang beredar di hari yang sama.

Washington Post mengutip sumber yang menyebut Rusia tetap memberikan intelijen kepada Iran untuk membantu operasi militer terhadap pasukan AS di Timur Tengah, bahkan ketika Moskow secara terbuka menyerukan deeskalasi.

Melansir Euronews, di hari yang sama ketika Putin menelepon Pezeshkian, Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menyatakan bahwa hari ini akan menjadi hari serangan paling intens di dalam wilayah Iran. Iran berdiri sendiri, dan mereka kalah telak.

Baca Juga: Waduh, Konsulat Rusia di Iran Rusak Akibat Serangan Israel-Amerika Serikat

Pernyataan itu keluar di tengah laporan serangan yang terus berlanjut di wilayah Iran.

Uni Emirat Arab pada hari yang sama melaporkan sistem pertahanan udaranya mencegat sembilan rudal balistik Iran yang menarget negara itu. Delapan berhasil dihancurkan, satu jatuh ke laut, sementara 35 drone terdeteksi dengan 26 di antaranya berhasil dicegat.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Wahyu Pratama
Editor: Amry Nur Hidayat