Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Konflik Global Berpotensi Tambah Defisit APBN

Konflik Global Berpotensi Tambah Defisit APBN Kredit Foto: Cita Auliana
Warta Ekonomi, Jakarta -

Ketegangan geopolitik global yang meningkat pada awal 2026 dinilai berpotensi menekan ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), terutama melalui lonjakan harga energi, pelemahan nilai tukar Rupiah, dan volatilitas pasar keuangan.

Risiko tersebut mencuat seiring manuver agresif Amerika Serikat di sejumlah kawasan strategis serta instabilitas politik yang kian dalam di Iran, salah satu produsen minyak dunia.

Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Andry Asmoro menyampaikan bahwa meski keterkaitan dagang langsung Indonesia dengan wilayah konflik relatif terbatas, rambatan risiko tidak dapat diabaikan.

“Risiko geopolitik terus meningkat. Langkah AS menekan Kolombia, Meksiko, Kuba, hingga ketertarikan aneksasi Greenland menambah ketidakpastian. Di saat bersamaan, instabilitas politik Iran akibat demonstrasi massal memperburuk fragilitas lanskap global,” ujarnya dalam risetnya yang dikutip, Rabu (14/1/2026).

Menurut Asmoro, meningkatnya atensi Amerika Serikat terhadap Greenland mencerminkan persaingan global atas wilayah yang kaya mineral kritis dan memiliki nilai strategis militer. Dinamika tersebut berpotensi memicu friksi baru dengan sejumlah negara berkepentingan, termasuk Denmark, China, dan Rusia. Eskalasi ini dinilai dapat memperburuk sentimen pasar global, terutama di tengah ketidakpastian arah kebijakan ekonomi dunia.

Dari kawasan Timur Tengah, kondisi Iran menjadi sumber risiko tambahan. Inflasi yang menembus 39%, depresiasi tajam mata uang Rial, serta tekanan sanksi internasional telah menggerus daya beli masyarakat dan memicu gelombang protes. Asmoro menilai, instabilitas domestik Iran berisiko mengganggu pasokan energi global. Bagi Indonesia yang berstatus net oil importer, gangguan pasokan berpotensi berdampak langsung terhadap beban fiskal.

Baca Juga: Defisit APBN 2025 Nyaris 3%, Purbaya: Bisa Nol, Tapi Ekonomi Morat-Marit

Harga minyak Brent tercatat menguat ke kisaran US$63,6 per barel pada awal pekan ini. Bank Mandiri menghitung, setiap kenaikan harga minyak sebesar US$1 per barel dapat menambah defisit fiskal Indonesia hingga Rp6,8 miliar. Asmoro menegaskan, tekanan akan semakin terasa apabila harga minyak bergerak konsisten di atas asumsi APBN sebesar US$70 per barel.

“Kenaikan harga minyak yang persisten di atas asumsi APBN US$70 per barel juga dapat memicu tekanan inflasi domestik,” katanya.

Meski demikian, dari sisi perdagangan internasional, dampak langsung konflik Iran terhadap Indonesia masih terbatas. Porsi ekspor Indonesia ke Iran tercatat kurang dari 1% dari total ekspor nasional, sementara impor berada di bawah 0,1%. Aliran investasi langsung dari Iran juga relatif kecil, hanya mencapai US$2,1 juta sepanjang sembilan bulan pertama 2025.

Namun, Asmoro menekankan bahwa jalur transmisi risiko tercepat justru berasal dari pasar keuangan. Meningkatnya persepsi risiko global mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset aman. Kondisi ini berpotensi memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga menekan nilai tukar Rupiah dan memperbesar risiko pembiayaan APBN di tengah kebutuhan fiskal yang masih tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Uswah Hasanah
Editor: Istihanah

Advertisement

Bagikan Artikel: