Kredit Foto: Azka Elfriza
Perlambatan ekonomi nasional dalam beberapa bulan terakhir tercermin dari melemahnya konsumsi masyarakat dan melambatnya penyaluran kredit, meski likuiditas besar telah digelontorkan khususnya ke segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Director Digital Economic CELIOS, Nailul Huda, memaparkan perkembangan ekonomi terkini yang menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara pendapatan, konsumsi, dan penyaluran kredit.
“Memang mendung masih menyelimuti ekonomi kita. Kita melihat ada beberapa indikator yang nanti saya sebutkan. Ini terkait dengan wisata konsumen yang memang masih lemah, tidak yakin untuk mengonsumsi,” ujarnya dalam acara Media Gathering Amartha, Jumat (23/1/2026).
Ia menjelaskan, lemahnya konsumsi terlihat dari sejumlah indikator, termasuk wisata konsumsi yang belum pulih dan kondisi ketenagakerjaan yang belum sepenuhnya stabil.
Adapun situasi tersebut turut tercermin dalam Indeks Penjualan Riil (IPR) yang pertumbuhannya melambat dan berdampak langsung pada penyaluran kredit perbankan.
“Ini juga terkait dengan IPR pertumbuhannya juga sama. Yang mengakibatkan rendahnya penyaluran kredit,” katanya.
Di tengah upaya stimulus melalui injeksi likuiditas besar, pertumbuhan kredit dinilai belum mencerminkan pemulihan ekonomi yang kuat. Pasalnya, meskipun dana sebesar Rp200 triliun telah digelontorkan Menteri Keuangan Purbaya, laju kredit masih terbatas.
“Kalau kita lihat pertumbuhan kredit, walaupun sudah diguyur 200 triliun sama Menteri favorit kita semua, Pak Purbaya, tapi kalau kita lihat pertumbuhan kredit itu hanya di angka 7,7%,” ujarnya.
Kondisi tersebut dinilai menunjukkan adanya ketidaksinkronan antara sisi penawaran dan permintaan kredit. Pasalnya, ada fenomena meningkatnya penyaluran pinjaman daring (pindar) di tengah kontraksi kredit perbankan.
“Pertumbuhan kredit ataupun penyaluran di pindar itu meningkat dua digit. Ini jadi ada anomali, apakah UMKM ini memang rendah atau terjadi switching,” kata dia.
Padahal, berdasarkan data yang dicermati CELIOS, permintaan kredit UMKM nonkonsumtif justru menunjukkan peningkatan pada 2025.
“Kalau kita lihat data, bahwa kredit kita minus, tapi satu sisi permintaan untuk kredit UMKM nonkonsumtif di tahun 2025 sebenarnya ada peningkatan,” ujar Nailul.
Ia menegaskan, selama kebutuhan pembiayaan UMKM masih ada, permintaan terhadap alternatif pembiayaan akan tetap tumbuh.
“Ketika masih ada kredit UMKM, permintaan untuk alternatif termasuk pindar itu masih akan ada. Makanya meskipun pertumbuhan kredit UMKM minus, pertumbuhan penyaluran pinjaman daring itu masih tetap positif, di angka dua digit, dua puluh sekian persen,” katanya.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Amry Nur Hidayat