Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Pengelolaan Sampah RI Baru 25%, Hanid Faisol: Target 63% Berat!

        Pengelolaan Sampah RI Baru 25%, Hanid Faisol: Target 63% Berat! Kredit Foto: Rahmat Saepulloh
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Menteri Lingkungan Hidup (LH)/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Hanif Faisol Nurofiq blak-blakan soal kondisi darurat sampah di Indonesia. Hingga awal 2026, tingkat pengelolaan sampah nasional baru menyentuh angka 25 persen.

        Padahal, target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2026 mematok angka fantastis sebesar 63 persen. Hanif mengakui mengejar target tersebut bukanlah perkara mudah.

        "Target yang dimintakan di dalam RPJMN adalah sebesar 63 persen. Hari ini berdasarkan update kita, maka pengelolaan sampah nasional di angka 24,9 persen atau 25 persen," ujar Hanif dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Gedung Parlemen, Senayan, Senin (26/1/2026).

        Baca Juga: Menteri LH Gugat 6 Perusahaan di Sumut Rp 4,8 Triliun Terkait Bencana

        Hanif menyebut selisih angka tersebut merupakan tantangan besar. Ia menegaskan, target 63 persen tersebut sulit diraih jika kementeriannya bergerak sendirian tanpa sokongan penuh dari legislatif.

        "Ini target yang sangat menantang untuk kita diskusikan bersama. Tentu tanpa dukungan dari Komisi XII, maka sepertinya tidak mudah untuk mencapai ini," tegasnya.

        Data yang dipaparkan Hanif cukup mengkhawatirkan. Dari total timbulan sampah nasional yang mencapai 141 ribu ton per hari, fasilitas pengolahan yang tersedia hanya mampu menyerap sekitar 36 ribu ton saja.

        Artinya, mayoritas sampah di Indonesia masih berakhir di tempat yang tidak semestinya.

        "Sampai hari ini, sampah yang masih dibuang di lapangan mencapai 75 persen sampah nasional. Angkanya sekitar 105 ribu ton per day (hari)," ungkap Hanif.

        Meski demikian, ada tren positif jika dibandingkan tahun lalu. Pada awal Januari 2025, tingkat sampah yang terkelola bahkan tidak sampai 14 persen. Angka ini merangkak naik ke 25 persen setelah adanya intervensi hukum dan pembinaan teknis di daerah-daerah.

        "Namun dengan dukungan Bapak/Ibu sekalian, dengan pemberian tekanan hukum dan bimbingan teknis, maka terjadi peningkatan di angka 25 persen," jelasnya.

        Baca Juga: KLH Tak Akan Toleransi Industri yang Cemari Udara Berulang

        Hanif mengakui, sekalipun seluruh fasilitas pengolahan sampah yang saat ini mangkrak atau belum aktif dioperasikan kembali, angka pengelolaan diprediksi baru menyentuh 55 persen. Masih ada celah (gap) menuju target 63 persen.

        Pemerintah sebenarnya telah mengandalkan teknologi Waste to Energy (WtE) di beberapa wilayah aglomerasi. Namun, kontribusinya saat ini baru sekitar 13 persen dari total sampah nasional.

        Hanif menegaskan perlu ada terobosan baru, mulai dari pembangunan fasilitas tambahan hingga dukungan anggaran yang kuat untuk mengejar ketertinggalan tersebut.

        "Angka ini jauh dari target nasional yang meminta kita untuk menyelesaikan sampah di angka 63 persen," pungkasnya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: