Kredit Foto: Antara/Bayu Pratama S
Dolar Amerika Serikat berada dalam jalur penurunan mingguan terdalam dalam beberapa bulan terakhir pada Jumat (23/1). Hal ini terjadi seiring meningkatnya ketegangan geopolitik yang mengguncang sentimen investor global.
Dilansir dari Reuters, Senin (26/1), Indeks Dolar (DXY) yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, terakhir tercatat melemah ke 97,571. Sepanjang pekan ini, indeks tersebut turun lebih dari satu persen, menandai penurunan mingguan terbesar sejak Juni 2025.
Baca Juga: BI Catat Uang Beredar Tembus Rp10.133 Triliun Desember 2025
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mengatakan telah mengamankan akses ke Greenland. Pernyataan tersebut disampaikan bersamaan dengan langkahnya yang menarik kembali ancaman tarif terhadap Eropa. Ia juga menegaskan tidak akan menggunakan kekuatan militer untuk mengambil wilayah dari Greenland.
Meski demikian, hal itu belum menghilangkan tekanan terhadap dolar. Di pasar valuta asing, dolar menjadi salah satu aset yang paling terdampak oleh kegelisahan investor.
Aset Amerika Serikat (AS) tmengalami tekanan besar pada awal pekan, ketika ketegangan geopolitik meningkat dan kembali memicu pembicaraan mengenai strategi perdagangan berupa “Sell America”.
Sentimen tersebut mengingatkan pasar pada gejolak yang terjadi setelah pengumuman tarif besar-besaran pada “Liberation Day” 2025. Trump saat itu mengeluarkan kebijakan perdagangan yang memicu aksi jual luas terhadap aset-aset berbasis dolar.
Baca Juga: Jadi Isu Sensitif bagi Pasar, Seleksi Deputi Gubernur BI Diminta Tak Hanya Sekadar Formalitas
Para pelaku pasar kini mencermati apakah pelemahan dolar ini bersifat sementara atau menjadi sinyal pergeseran sentimen yang lebih panjang terhadap aset Amerika Serikat di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement