Kredit Foto: BBC
Bitcoin gagal mempertahankan momentum pemulihan di US$90.000 di Senin (26/1). Hal itu memicu melemahnya kepercayaan investor dan memperkuat sentimen bearish di pasar kripto.
Dilansir dari Coinmarketcap, Harga Bitcoin terakhir diperdagangkan di US$88.000. Hal ini menyusul ketidakpastian pasar yang terus berlanjut dan mematahkan sinyal terbentuknya struktur pasar bullish untuk 2026.
Baca Juga: Buah Loyalitas, Perusahaan Ini Hadiahkan Karyawannya Bitcoin (BTC)
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus menjadi perhatian melalui kebijakan kontroversialnya, seperti mengenakan tarif terhadap negara-negara mitra dagangnya.
Hal tersebut memicu aksi jual besar-besaran. Peristiwa tersebut menyebabkan likuidasi posisi kripto senilai lebih dari US$865 juta.
“Dalam jangka pendek, pelemahan Bitcoin didorong oleh absennya minat yang jelas dari pelaku besar di level harga saat ini,” kata TYMIO Founder, Georgii Verbitskii.
Ia menjelaskan bahwa ketidakpastian geopolitik membuat investor bersikap defensif dalam mengelola modal mereka. Selain itu, perhatian investor kini lebih banyak terserap ke emas sebagai aset lindung nilai utama.
“Emas menjadi sorotan utama sebagai hedge, sehingga Bitcoin untuk sementara tersisih,” ujar Verbitskii.
Baca Juga: Strategy (MSTR) Tambah Kepemilikan Bitcoin (BTC) US$2,13 Miliar
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar kripto masih rentan terhadap tekanan eksternal, terutama di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan pergeseran minat investor ke aset aman.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait:
Advertisement