Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Konsorsium HYD Garap Proyek Titan US$6 Miliar Bareng Antam dan IBI

        Konsorsium HYD Garap Proyek Titan US$6 Miliar Bareng Antam dan IBI Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Konsorsium HYD resmi mengambil alih pengembangan proyek hilirisasi baterai terintegrasi Titan senilai US$6 miliar, menggantikan LG Energy Solution (LGES) yang sebelumnya menarik diri. Proyek tersebut digarap bersama PT Aneka Tambang Tbk (Antam) dan PT Industri Baterai Indonesia (IBI).

        Peresmian kerja sama ditandai dengan penandatanganan kesepakatan antara Antam, IBI, dan Zhejiang Huayou Cobalt Co., Ltd. di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (30/1/2026).

        Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyatakan proyek Titan merupakan ekosistem baterai kendaraan listrik yang terintegrasi dari hulu hingga hilir. Total investasi proyek tersebut mencapai US$6 miliar dengan kapasitas produksi baterai sel hingga 20 gigawatt hour (GWh).

        Proyek Titan mencakup rantai industri mulai dari pertambangan nikel, fasilitas pemurnian melalui teknologi RKEF dan HPAL, hingga produksi precursor, katoda, dan baterai sel. Menurut Bahlil, struktur terintegrasi tersebut dirancang untuk memperkuat daya saing industri baterai nasional.

        Baca Juga: Gantikan LG di Proyek Titan, Huayou dan Antam Masih Belum Capai Kesepakatan Final

        “Lokasinya nanti ada dua. Untuk baterai mobilnya itu di Jawa Barat, tetapi untuk smelter, precursor cathode-nya, dan HPAL-nya itu di Halmahera Timur, Maluku Utara. Karena lokasi tambang yang punya Antam itu di Halmahera Timur,” ujar Bahlil.

        Ia menegaskan proyek ini merupakan bagian dari percepatan program hilirisasi mineral yang sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Pemerintah menekankan agar pembangunan industri strategis memberikan dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja dalam negeri.

        “Kita ingin negara kita harus berdaulat untuk kepentingan rakyat, bangsa, dan negara. Yang bisa dikerjakan di dalam negeri, pakai tenaga kerja dalam negeri. Yang tidak bisa dikerjakan, baru ambil dari luar,” kata Bahlil.

        Baca Juga: Eksplorasi Antam Habiskan Rp245,76 Miliar Sepanjang 2025

        Selain mendukung industri kendaraan listrik, pabrik baterai dalam proyek Titan juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan sistem penyimpanan energi (energy storage) bagi pembangkit energi bersih, termasuk Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).

        Dari sisi industri, Direktur IBI Aditya Farhan menyatakan optimistis terhadap prospek baterai berbasis nikel di tengah dinamika teknologi global. Ia menilai nikel masih memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi baterai masa depan.

        “Optimistis. Apalagi sekarang teman-teman cuma kenalnya LFP dan NMC. Namun, ke depan opsi teknologi baterai sangat banyak, dan opsi future battery itu masih akan menggunakan nikel,” ujar Aditya.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: