- Home
- /
- New Economy
- /
- Energi
Gantikan LG di Proyek Titan, Huayou dan Antam Masih Belum Capai Kesepakatan Final
Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Proyek integrasi baterai kendaraan listrik (EV) di Halmahera Timur, Maluku Utara, atau Proyek Titan, belum menunjukkan kemajuan signifikan meski Zhejiang Huayou Cobalt Co telah menggantikan LG Energy Solution (LGES) sebagai mitra utama. Hingga kini, kerja sama antara Huayou dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) masih tertahan pada tahap kajian dan finalisasi kesepakatan.
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Ahmad Erani Yustika, mengakui realisasi proyek tersebut belum berjalan secepat yang diproyeksikan pemerintah. Progres di lapangan juga dilaporkan belum terlihat meski pergantian mitra telah dilakukan.
“Masih belum disclose. Sampai sekarang masih dalam kajian, masih dalam anu, belum... tidak secepat seperti yang kita bayangkan,” ujar Erani saat ditemui di Jakarta, Kamis (21/1/2026).
Baca Juga: Indonesia Perkuat Proyek Ekosistem Industri Baterai Listrik Terintegrasi
Proyek Titan merupakan proyek strategis dengan nilai investasi total mencapai US$9,8 miliar atau sekitar Rp165,6 triliun. Proyek ini dirancang sebagai ekosistem terintegrasi dari hulu ke hilir, mulai dari pertambangan nikel, pemurnian melalui fasilitas RKEF dan HPAL, hingga produksi prekursor, katoda, dan sel baterai EV.
Huayou masuk menggantikan LGES untuk melanjutkan proyek senilai US$8 miliar atau sekitar Rp130,6 triliun dalam skema joint venture bersama Indonesia Battery Corporation (IBC). Namun, proses transisi mitra dan negosiasi teknis antarpihak disebut memerlukan waktu lebih panjang dari perkiraan awal.
“Rencana itu masih berjalan, tetapi secara teknis mereka masih memerlukan waktu ya untuk memfinalisasi kesepakatan kerja sama di antara beberapa pihak itu,” jelas Erani.
Baca Juga: AEML Ungkap Pabrik Baterai Lokal Tak Jamin Harga Mobil Listrik Langsung Turun
Erani enggan merinci faktor utama yang menghambat kesepakatan, apakah terkait aspek keekonomian proyek atau struktur investasi. Ia menegaskan pemerintah tidak berada pada posisi untuk memaksakan keputusan bisnis yang bersifat sensitif.
“Pemerintah dalam hal ini Kementerian ataupun Danantara juga tidak bisa dalam posisi harus menentukan ini, karena bisnis itu kan harus ditelaah secara matang. Bukan hanya soal pasarnya ada, anggarannya tersedia, bahan bakunya cukup, tetapi kan ada pernak-pernik yang mesti harus diteliti satu per satu kan. Supaya di antara mereka yang kerja sama itu betul-betul merasa sudah firm,” tambah Erani.
Mandeknya Proyek Titan di Halmahera Timur terjadi di tengah capaian Indonesia di sisi hilir industri baterai. Pada Juli 2024, pemerintah meresmikan pabrik sel baterai EV pertama PT HLI Green Power di Karawang, Jawa Barat, hasil kolaborasi Hyundai dan LGES dengan kapasitas produksi 10 GWh per tahun.
Keterlambatan eksekusi Proyek Titan dinilai berpotensi menggerus momentum Indonesia dalam rantai pasok global baterai EV. Kementerian ESDM menyatakan Menteri ESDM terus mendorong percepatan realisasi proyek mengingat berbagai instrumen pendukung telah tersedia.
“Pak Menteri dalam hal ini ketika memimpin sih belum ada (tenggat waktu), tapi ini kan mesti dieksekusi secepat yang mungkin bisa dilakukan. Karena kan sumber dayanya ada, anggaran seharusnya tidak menjadi persoalan,” tegas Erani.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri
Advertisement