Kredit Foto: Azka Elfriza
Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara mengungkapkan ciri-ciri dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang akan ditutup. Kebijakan pemangkasan BUMN menjadi bagian dari penataan portofolio agar fokus pada sektor industri bernilai ekonomi tinggi dan tidak membebani keuangan negara.
Kepala Badan Pengaturan (BP) BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) BPI Danantara, Dony Oskaria, menegaskan pemangkasan tidak diarahkan pada pengurangan jumlah BUMN secara menyeluruh, melainkan pada unit-unit yang tidak memberikan nilai tambah.
“Yang kita pangkas itu kan yang memang tidak efektif dan kecil-kecil, anak cucu yang misalkan sizing-nya kecil. Misal contoh: kita punya air minum, kita punya travel agent kecil, ya buat apaan? Kita punya logistik, logistiknya tapi kecil skalanya,” kata Dony saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Baca Juga: RDP Tertutup dengan DPR, Rosan Ungkap Danantara Bahas Rencana Pemangkasan BUMN
Menurut Dony, unit usaha dengan skala terbatas dan kinerja keuangan yang terus merugi berpotensi merugikan keuangan publik. Karena itu, pemerintah memilih menutup usaha-usaha tersebut agar dana negara tidak terus terserap tanpa hasil.
“Yang terus selama ini juga rugi. Ya kalau rugi kan merugikan uang kita semua kan. Nah ini yang kita tutup,” ujarnya.
Ia menegaskan, kebijakan pemangkasan tersebut tidak dapat dimaknai sebagai penghentian ekspansi BUMN. Pemerintah tetap membuka ruang pembentukan anak usaha baru selama bergerak di sektor strategis dan dibutuhkan oleh pasar.
“Tapi namanya berkembang tentu kita bangun juga yang baru,” kata Dony.
Baca Juga: Danantara Bakal Pangkas 1.068 BUMN Jadi 200, Ini Alasannya!
Penataan BUMN, lanjut Dony, dilakukan berdasarkan kajian efektivitas usaha dan skala bisnis. Hingga kini, proses evaluasi masih berjalan dan pemerintah terus memantau kinerja portofolio BUMN.
“Lagi kita kaji. Nanti akan kita kabarin ya. Tapi monitor terus saja. Kalau ada yang kurang bagus kasih masukan. Ya,” ujarnya.
Ke depan, pemerintah berencana mendorong BUMN masuk ke sektor industri bernilai tinggi yang dinilai memiliki prospek jangka panjang dan relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Sejumlah sektor yang disoroti antara lain industri baterai, kendaraan listrik (electric vehicle), serta pengelolaan rare earth.
“Misalkan industri nanti kita punya industri baterai, ada industri electric vehicle. Contohnya Perminas untuk rare earth, karena memang kita butuh perusahaan karena kita punya rare earth,” kata Dony.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: