Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Edukasi untuk Orang Tua, Health Talk bersama RS Premier Bintaro Bahas Perbedaan Gumoh dan GERD pada Bayi

        Edukasi untuk Orang Tua, Health Talk bersama RS Premier Bintaro Bahas Perbedaan Gumoh dan GERD pada Bayi Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Kondisi gumoh atau regurgitasi pada bayi sering kali memicu kekhawatiran bagi orang tua karena kerap dianggap sebagai gejala penyakit. Padahal, secara medis, regurgitasi dan Gastroesophageal Reflux (GER) adalah fenomena fisiologis yang normal terjadi, khususnya pada bayi di enam bulan pertama usia mereka. Gumoh masih dikategorikan wajar selama tidak disertai gejala tambahan yang mengkhawatirkan, seperti adanya bercak darah.

        Guna meluruskan pemahaman tersebut, RS Premier Bintaro mengadakan Media Gathering & Health Talk bertajuk “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” pada Rabu (4/2/2026). Kegiatan yang berlangsung di Gala Room, Sutasoma Hotel at The Tribrata, Jakarta ini dibuka langsung oleh dr. Relia Sari, MARS, selaku Chief Executive Officer (CEO) RS Premier Bintaro.

        Dalam sambutannya, dr. Relia menekankan pentingnya sinergi dengan media dalam menyebarkan informasi medis yang tepat demi mendukung tumbuh kembang anak. 

        “Edukasi kesehatan anak berbasis bukti ilmiah merupakan bagian dari komitmen RS Premier Bintaro dalam mendukung tumbuh kembang anak yang optimal. Peran media dinilai penting untuk membantu menyampaikan informasi kesehatan yang akurat kepada masyarakat, khususnya kepada orang tua,” jelas dr. Relia.

        Hadir sebagai pemateri utama, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatolog. Prof. Hegar dikenal sebagai salah satu pakar terkemuka di Indonesia dalam bidang gastroenterologi dan hepatologi anak dengan pengalaman luas dalam praktik klinis, pendidikan, serta penelitian, dan aktif sebagai pembicara di berbagai forum ilmiah nasional maupun internasional.

        Berdasarkan data klinis yang dipaparkan Prof. Hegar, sekitar 30 persen bayi mengalami regurgitasi atau gumoh dengan puncak kejadian pada usia 3–4 bulan. Umumnya akan berkurang secara bertahap hingga usia 12 bulan. Kondisi ini dikenal sebagai happy spitter, yaitu bayi yang tetap ceria, menyusu dengan baik, dan tumbuh normal meskipun sering mengalami gumoh.

        Namun demikian, Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) merupakan kondisi yang berbeda dan jauh lebih jarang dengan prevalensi sekitar 3–8 persen. GERD terjadi ketika isi lambung naik ke kerongkongan secara terlalu sering atau terlalu lama sehingga dapat menyebabkan peradangan esofagus (esofagitis) dan komplikasi lain seperti gangguan makan, gagal tumbuh, anemia, regurgitasi disertai darah, hingga gangguan kualitas hidup anak.

        “Regurgitasi dan GER itu sering dan umumnya tidak berbahaya, sedangkan GERD jarang. GERD perlu dicurigai bila terdapat tanda bahaya atau alarm sign, seperti gagal tumbuh, bercak darah pada regurgitasi, nyeri hebat, atau gangguan neurologis. Tanpa tanda alarm, pemeriksaan lanjutan biasanya tidak diperlukan,” jelas Prof. Badriul Hegar.

        Dalam sesi diskusi juga ditekankan bahwa regurgitasi berlebihan, bayi rewel, atau tangisan berkepanjangan tidak selalu menandakan GERD karena kondisi tersebut juga dapat ditemukan pada bayi sehat. Oleh karena itu, evaluasi medis yang tepat diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan kondisi lain, seperti alergi protein susu sapi, sebelum menetapkan diagnosis GERD.

        Baca Juga: Mengenal BPJS PBI, Program BPJS Kesehatan Gratis dari Pemerintah

        Penatalaksanaan awal regurgitasi dan GER pada bayi umumnya bersifat non-farmakologis, meliputi edukasi orang tua, melanjutkan ASI, menghindari overfeeding, pengaturan posisi bayi, serta penggunaan susu formula yang ditebalkan bila diperlukan. Pemberian obat bukan merupakan terapi lini pertama dan hanya dipertimbangkan pada kasus GERD yang terkonfirmasi.

        Melalui kegiatan ini, RS Premier Bintaro menegaskan komitmennya untuk terus menghadirkan edukasi kesehatan anak yang komprehensif dan berbasis ilmiah, serta memperkuat kolaborasi dengan media dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Amry Nur Hidayat

        Bagikan Artikel: