Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        IHSG Jadi yang Terburuk di ASEAN dan Asia Pasifik Usai Outlook Moody’s

        IHSG Jadi yang Terburuk di ASEAN dan Asia Pasifik Usai Outlook Moody’s Kredit Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menjadi indeks dengan kinerja terburuk di kawasan ASEAN dan Asia Pasifik selama pekan perdagangan 2–6 Februari 2026 setelah turun 394,35 poin atau 4,73% ke level 7.935,26 dari 8.329,61 pada pekan sebelumnya. Dalam periode tersebut indeks bergerak pada rentang 7.712,35–8.313,06. 

        Secara regional, seluruh indeks utama ASEAN mencatatkan kinerja lebih baik dibanding Indonesia. Thailand naik 2,14%, Filipina naik 0,98%, Singapura naik 0,60%, sedangkan Malaysia turun tipis 0,46% dan Vietnam turun 2,54%. Penurunan IHSG sebesar 4,73% menjadi yang terdalam di kawasan tersebut. 

        Di kawasan Asia Pasifik, IHSG juga mencatat pelemahan paling besar dibanding indeks utama lain. Jepang naik 1,75%, India naik 1,59%, Taiwan turun 0,88%, China turun 1,27%, Australia turun 2,29%, Korea Selatan turun 2,59%, dan Hong Kong turun 3,02%. 

        Baca Juga: Sempat Menguat, IHSG Pagi Ini Balik Anjlok Masih Dibayangi Sentimen Moody's

        Pelemahan indeks domestik terjadi bersamaan dengan penyusutan aktivitas perdagangan. Rata-rata volume harian turun dari 63,30 miliar saham menjadi 43,20 miliar saham (-31,75%). Nilai transaksi harian turun dari Rp43,76 triliun menjadi Rp24,75 triliun (-43,45%). Frekuensi perdagangan turun dari 3,82 juta kali menjadi 2,73 juta kali (-28,62%). 

        Kapitalisasi pasar berkurang dari Rp15.046 triliun menjadi Rp14.341 triliun atau turun Rp705 triliun (-4,69%). Investor asing mencatatkan jual bersih Rp1,13 triliun selama 5 hari perdagangan tersebut. 

        Dari sisi sektoral, seluruh sektor mencatat penurunan dengan tekanan terbesar pada konsumer siklikal -14,53%, infrastruktur -11,27%, dan energi -8,84%. Sektor dengan penurunan paling kecil adalah kesehatan -0,41%. 

        Sebagian besar transaksi terjadi di pasar reguler dengan volume 203,07 miliar saham atau 94,01% dari total transaksi dan nilai Rp114,70 triliun atau 92,70% dari total nilai perdagangan saham.

        Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi menyatakan pelemahan pasar dipengaruhi faktor domestik, salah satunya perubahan outlook kredit Indonesia oleh Moody’s.

        Moody’s mempertahankan peringkat Indonesia pada level Baa2 namun menurunkan outlook menjadi negatif akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan dan melemahnya prediktabilitas serta koordinasi pemerintah.

        Baca Juga: IHSG Berpeluang Menguat Hari Ini, Intip 6 Rekomendasi Saham dari BNI Sekuritas

        “Moody’s menyoroti risiko fiskal dari perluasan belanja sosial, basis penerimaan negara yang lemah, serta ketidakjelasan tata kelola dan mandat sovereign wealth fund Danantara yang mengelola aset BUMN besar, sementara eskalasi risiko politik dan volatilitas pasar keuangan berpotensi menekan stabilitas makro jika tidak diimbangi dengan konsistensi kebijakan yang lebih kuat," ujar Imam, Jakarta, Senin (9/2/2026). 

        Penurunan outlook tersebut menurunkan batas atas peringkat (rating cap) sejumlah emiten besar, termasuk BUMN seperti Telkom, Pertamina, serta bank Mandiri, BRI, BNI, BCA, dan BTN. Emiten non-BUMN seperti Indofood CBP dan United Tractors ikut terdampak melalui sensitivitas terhadap stabilitas makro dan akses pendanaan. Indofood CBP juga memiliki eksposur utang dolar AS dari akuisisi Pinehill sehingga rentan terhadap volatilitas nilai tukar dan premi risiko negara.

        Di sisi lain, ekonomi domestik tetap tumbuh 5,11% sepanjang 2025 dengan pertumbuhan triwulan IV sebesar 5,39% (yoy), didorong sektor transportasi dan pergudangan. Pertumbuhan ditopang permintaan domestik, konsumsi digital, aktivitas produksi di zona ekspansi, serta belanja modal pemerintah yang naik 40,14% (yoy).

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Annisa Nurfitri
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: