Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        BIM Ungkap 8 Wilayah RI Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang

        BIM Ungkap 8 Wilayah RI Simpan Harta Karun Logam Tanah Jarang Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Badan Industri Mineral (BIM) mengungkap Indonesia memiliki delapan blok potensial Logam Tanah Jarang (LTJ) atau rare earth yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. Temuan ini dinilai strategis karena seluruh blok merupakan sumber primer, bukan produk sampingan pertambangan, dan berpotensi menjadi fondasi baru penguatan industri nasional.

        Kepala Badan Industri Mineral Brian Yuliarto menegaskan delapan blok LTJ tersebut memiliki kandungan mineral bernilai tinggi dengan skala lahan yang signifikan.

        “Ada 8 blok yang kami nilai memiliki potensi yang sangat besar. Ini semuanya adalah primary resources. Jadi bukan by-product resources,” ujar Brian, dalam rapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (9/2/2026). 

        Baca Juga: Harta Karun Baru Freeport di Papua 'Kucing Liar' Bakal Dikeruk 2030

        Berdasarkan data teknis BIM, sebaran delapan blok tersebut mencakup Blok Toboali dan Keposang di Bangka Belitung, Blok Mentikus dan Batubesi di Bangka Belitung, Blok Melawi dan Boyan Hulu di Kalimantan Barat, serta Blok Mamuju di Sulawesi Barat dan Blok Bombana di Sulawesi Tenggara.

        Blok Toboali, Bangka Belitung, tercatat menyimpan Tungsten sekitar 8.287 ppm, Rare Earth Elements (REE) 2.391 ppm, serta Tantalum di area sekitar 10.000 hektare. Blok Keposang memiliki kandungan REE sekitar 1.000 ppm di lahan 5.000 hektare. Blok Mentikus mengandung timah (Sn) 23.400 ppm dan Tungsten 9.000 ppm di area 200 hektare, sementara Blok Batubesi mencatat Sn 5.000 ppm dan Tungsten 2.500 ppm di lahan 500 hektare.

        Di Kalimantan Barat, Blok Melawi disebut memiliki potensi masif Rare Earth Elements dengan total kandungan sekitar 81.720 ppm di area 54.000 hektare. Sementara Blok Boyan Hulu menjadi target utama Antimony dengan kadar sekitar 70–95% di area 8.492 hektare.

        Adapun di Sulawesi, Blok Mamuju, Sulawesi Barat, tercatat mengandung REE sekitar 2.000 ppm di area 23.000 hektare. Blok Bombana, Sulawesi Tenggara, memiliki kandungan REE 220 ppm dan Antimony sekitar 6.170 ppm di lahan seluas 64.000 hektare.

        Baca Juga: Amman Fokus Eksplorasi Blok Elang dan Blok Rinti, Telan Dana US$3,03 Juta

        Untuk mengamankan aset strategis tersebut, BIM tengah berkoordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral agar pengelolaan Izin Usaha Pertambangan (IUP) di delapan blok LTJ diprioritaskan bagi Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Langkah ini disebut sejalan dengan arahan Presiden untuk memperkuat kedaulatan industri strategis dan pertahanan nasional.

        “Delapan ini yang kami sedang lakukan penelitian secara intensif untuk kemudian kami akan berkoordinasi dengan Kementerian ESDM untuk memberikan rekomendasi sehingga pengelolaan IUP-nya dapat diberikan kepada Badan Usaha Milik Negara sebagaimana diminta oleh Bapak Presiden,” kata Brian.

        Dari sisi ekonomi, BIM memproyeksikan Indonesia berpeluang menguasai sekitar 1-5% pangsa industri rare earth global. Nilai hilirisasi sektor ini diperkirakan mampu menghasilkan devisa hingga US$7,42 miliar pada 2030.

        Sebagai langkah awal, BIM akan segera mengoperasikan pilot teknologi hilirisasi rare earth di Mamuju untuk menguji kesiapan teknologi domestik pemisahan elemen LTJ sebelum pengembangan industri berskala penuh dilakukan di seluruh blok potensial.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
        Editor: Annisa Nurfitri

        Bagikan Artikel: