Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Otomotif
Energi
Meet The Leaders
Indeks
Video
About Us
Social Media

Harta Karun Baru Freeport di Papua 'Kucing Liar' Bakal Dikeruk 2030

Harta Karun Baru Freeport di Papua 'Kucing Liar' Bakal Dikeruk 2030 Kredit Foto: Rahmat Dwi Kurniawan
Warta Ekonomi, Jakarta -

PT Freeport Indonesia (PTFI) menargetkan tahap awal produksi (ramp-up) tambang bawah tanah Kucing Liar di Papua akan dimulai pada tahun 2030. Proyek masa depan ini dipastikan akan beroperasi dengan kapasitas yang lebih besar dari rencana semula.

Berdasarkan laporan keuangan Freeport-McMoRan (FCX) yang dirilis Kamis (22/1/2026), perusahaan telah meningkatkan desain kapasitas operasional Kucing Liar menjadi 130.000 metrik ton bijih per hari. Angka ini naik signifikan dari rencana awal yang sebesar 90.000 metrik ton per hari.

Peningkatan kapasitas desain tersebut turut mendongkrak estimasi cadangan mineral di blok tersebut. Per 31 Desember 2025, cadangan Kucing Liar diperkirakan mencapai 8 miliar pon tembaga dan 8 juta ons emas untuk masa pemulihan hingga 2041. Jumlah ini meningkat sekitar 20% dari estimasi sebelumnya yang sebesar 7 miliar pon tembaga dan 6 juta ons emas.

Saat mencapai tingkat produksi penuh, tambang Kucing Liar diproyeksikan mampu menghasilkan rata-rata 750 juta pon tembaga dan 735 ribu ons emas setiap tahunnya. Target output ini meningkat lebih dari 35% dibandingkan proyeksi awal perusahaan.

Untuk merealisasikan proyek raksasa ini, Freeport mengalokasikan total investasi modal tambahan sekitar US$ 4 miliar (setara Rp 63 triliun) hingga tahun 2033. Rata-rata pengeluaran tahunan diperkirakan mencapai US$ 0,5 miliar. Adapun hingga akhir 2025, PTFI tercatat telah mengucurkan dana sebesar US$ 1,1 miliar untuk pengembangan awal deposit tersebut.

Manajemen FCX mencatat adanya kenaikan biaya modal sekitar US$ 0,5 miliar atau 10% karena perubahan desain pengembangan, pengaruh pada tingkat operasi di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave, serta penundaan belanja modal terkait pemrosesan bijih dengan kadar pirit yang lebih tinggi.

Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

Penulis: Rahmat Dwi Kurniawan
Editor: Annisa Nurfitri

Advertisement

Bagikan Artikel: