Menu
News
EkBis
New Economy
Kabar Finansial
Global Connections
Video
    Indeks
      About Us
        Social Media

        Yuan Hingga Produk Murah China Berpotensi Hancurkan Industri Uni Eropa

        Yuan Hingga Produk Murah China Berpotensi Hancurkan Industri Uni Eropa Kredit Foto: Istimewa
        Warta Ekonomi, Jakarta -

        Uni Eropa didorong untuk mempertimbangkan langkah drastis untuk menahan banjir impor murah dari China. Hal itu termasuk opsi penerapan tarif menyeluruh sebesar tiga puluh persen atau pelemahan nilai tukar euro hingga tiga puluh persen terhadap renminbi.

        Dikutip dari Reuters, Lembaga Penasihat Prancis, Haut-Commissariat à la Stratégie et au Plan menilai kawasan euro sedang menghadapi lonjakan tekanan kompetitif dari China. Tekanan tersebut membuat produsen dari negara itu merebut pangsa pasar industri lokal dari Eropa.

        Baca Juga: China Ketar-ketir Usai Kemenangan Telak Koalisi Sanae Takaichi di Jepang

        Lembaga tersebut menyebut sektor kunci basis industri blok euro seperti otomotif, mesin perkakas, kimia dan baterai kini berada di bawah ancaman langsung produk murah dari China.

        Lonjakan tersebut didorong oleh peningkatan kualitas produk serta keunggulan biaya yang berkelanjutan yang dilakukan oleh China. Kondisi ini diperparah oleh nilai tukar renminbi yang dinilai masih “tertekan” atau undervalued.

        Haut-Commissariat à la Stratégie et au Plan memperingatkan bahwa kemajuan industri negara itu berisiko mendorong blok euro ke dalam siklus kehancuran yang merusak jika tidak direspons dengan kebijakan baru. Ia menilai instrumen pertahanan dagang kawasan euro saat ini, seperti investigasi anti-dumping yang memakan waktu panjang, sudah tidak memadai.

        Baca Juga: Epstein Files Makan Korban Banyak Elit Politik di Eropa, Mundur Satu-Satu

        Lembaga itu menyerukan perubahan kebijakan yang bersifat besar dan mendesak. Namun, mereka mengakui bahwa merekayasa pelemahan euro atau mendorong penguatan renminbi akan jauh lebih sulit dibandingkan penerapan tarif. Di sisi lain, pengenaan tarif juga tidak mudah karena membutuhkan dukungan mayoritas berkualifikasi dari negara-negara anggota dari Uni Eropa.

        Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.

        Editor: Aldi Ginastiar

        Bagikan Artikel: