AS Lagi Cari-cari Alasan, China Sebut Trump Ingin Perbanyak Kepemilikan Senjata Nuklir
Kredit Foto: Istimewa
China membantah keras tuduhan soal uji senjata nuklir yang dilayangkan pemerintahan dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Beijing menegaskan menegaskan tudingan tersebut tidak berdasar dan menilai tuduhan itu hanyalah alasan rivalnya untuk kembali melakukan uji coba nuklir.
Dikutip dari Xinhua, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian mengatakan bahwa tuduhan berulang terhadap pihaknya terkait pengembangan senjata nuklir merupakan bentuk distorsi dan pencemaran terhadap kebijakan nuklir dari China.
Baca Juga: Asia Timur Masih Panas, China Desak Jepang Hadirkan Tindakan Nyata Soal Taiwan
Menurut Lin, langkah tersebut mencerminkan manipulasi politik dari AS. Negeri Paman Sam menurutnya ingin mempertahankan dominasi nuklir sekaligus menghindari kewajiban pelucutan senjata nuklir.
“China dengan tegas menentang hal ini,” ujar Lin.
Amerika Serikat juga menurutnya saat ini menjadi sumber utama gangguan terhadap tatanan nuklir internasional dan stabilitas strategis global.
Lin juga menyoroti keputusan rivalnya yang membiarkan berakhirnya perjanjian dari New Start. Menurutnya, langkah tersebut telah merusak kepercayaan di antara negara-negara besar dan mengguncang stabilitas keamanan global.
Adapun Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menolak proposal resmi untuk tetap mematuhi batasan dari New Start. Trump sebelumnya ingin perjanjian itu melibatkan China.
Namun, Beijing menolak usulan itu dengan alasan kapabilitas nuklirnya masih jauh di bawah Amerika Serikat dan Rusia. China menilai pendekatan tersebut tidak mencerminkan keseimbangan dan realitas kekuatan nuklir global saat ini.
Berakhirnya New Start memicu kekhawatiran internasional akan potensi perlombaan senjata nuklir tiga arah antara Amerika Serikat, Rusia, dan China. China, meski memiliki jumlah hulu ledak yang jauh lebih sedikit dibanding dua negara lainnya, disebut tengah mempercepat modernisasi militernya, sehingga menambah ketegangan geopolitik global.
Baca Juga: China Panik, Kecam Upaya 'Keamanan' Jepang
Situasi ini dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas keamanan dunia dan meningkatkan risiko eskalasi konflik strategis, terutama di tengah ketidakpastian hubungan antarnegara besar.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Editor: Aldi Ginastiar
Tag Terkait: