Kredit Foto: Istimewa
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyatakan transformasi pertanian nasional dari sistem tradisional ke modern memungkinkan satu orang petani mengelola hingga 25 hektare lahan dalam satu hari dengan dukungan teknologi mekanisasi dan drone, menggantikan pola lama yang membutuhkan puluhan tenaga kerja.
Ia menjelaskan, sebelumnya pengelolaan satu hektare sawah membutuhkan sekitar 25 orang tenaga kerja. Dengan adopsi teknologi modern seperti drone pertanian, traktor, dan combine harvester, satu orang kini mampu mengelola hingga 25 hektare hanya dalam beberapa jam.
“Dulu satu hektare dikerjakan 25 orang. Sekarang satu orang bisa mengerjakan 25 hektare dalam satu hari dengan teknologi,” kata Amran, dalam forum Indonesia Economic Outlook 2026 di Jakarta, Jumat (13/2/2026).
Baca Juga: Gudang Bulog Penuh Sesak, Amran Minta Tambahan Anggaran ke Purbaya
Menurutnya, transformasi ini menjadi kunci untuk meningkatkan indeks pertanaman dari satu kali tanam menjadi hingga tiga kali tanam dalam setahun, sekaligus menurunkan biaya produksi pertanian hingga 50%. Efisiensi tersebut berdampak langsung pada peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani.
Amran menyebut, hasil dari modernisasi pertanian tersebut tercermin pada Nilai Tukar Petani (NTP) yang mencapai 125, tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan NTP menunjukkan peningkatan daya beli petani seiring dengan turunnya biaya produksi dan meningkatnya harga jual hasil panen.
Transformasi ini berjalan seiring dengan kebijakan deregulasi besar-besaran di Kementerian Pertanian. Amran mengungkapkan pihaknya telah mencabut 547 regulasi internal guna mempercepat pengambilan keputusan dan implementasi teknologi di lapangan.
Baca Juga: RI Tingkatkan Pembelian Produk Pertanian AS, Targetkan USD 4,5 Miliar
Salah satu dampak signifikan deregulasi terlihat pada distribusi pupuk. Rantai birokrasi yang sebelumnya melibatkan banyak kementerian, pemerintah daerah, dan ratusan aturan dipangkas menjadi jalur langsung dari Kementerian Pertanian ke produsen pupuk dan petani. Kebijakan tersebut menurunkan biaya pupuk sekitar 20% dan meningkatkan volume distribusi hingga 700 ribu ton tanpa tambahan anggaran.
Di tengah tekanan El Nino terberat sepanjang sejarah, Kementerian Pertanian juga mengalihkan anggaran perjalanan dinas dan kegiatan seremonial untuk pengadaan pompa air dan alat mesin pertanian. Langkah ini memungkinkan pemanfaatan sumber air sungai secara masif untuk irigasi dan menjaga produktivitas lahan saat kekeringan.
“Seluruh sumber daya kami arahkan ke lapangan, bukan ke seminar atau kegiatan tidak produktif,” ujar Amran.
Mau Berita Terbaru Lainnya dari Warta Ekonomi? Yuk Follow Kami di Google News dengan Klik Simbol Bintang.
Penulis: Azka Elfriza
Editor: Annisa Nurfitri
Tag Terkait: